MAAF Life Changing Story

October 9th, 2007 by oelkrew

Siantan-Pontianak, 20 Juli 2004
>
>Wanita itu terbaring dengan serangkaian selang disekujur tubuhnya.
>Komplikasi penyakit jantung, darah tinggi, dan paru-paru menggerogoti
>bobotnya yang dulu subur berisi. Dari balik selimut terlihat jelas
>tulang-belulangnya tersembul. Sebentar-sebentar kepalanya mendongak
>mencari aliran udara, menghirup,dan mengeluarkan napas dengan
>tersengal-sengal. Ia tampak tersiksa sekali.
>
>Aku mengintip dari kaca pintu, ragu-ragu untuk masuk.Bukan saja karena
>takut, tapi juga karena enggan.Enggan melihat kondisi sakitnya, enggan
>bertegur sapa dengan orang-orang yang mungkin ada di dalam ruangan itu,
>dan enggan berdamai dengan perasaan sakit hatiyang selama belasan tahun
>terpupuk hebat dalam hatiku.Tak mudah menghapus luka lama. Siang ini
aku
>baru saja sampai di Jakarta, setelah tiga hari mengikuti pameran di
>Bali. Taksi yang kutumpangi dari bandara sudah berhenti di depan rumah.
>Ponselku tiba-tiba berbunyi."Pulanglah, Mei Cen. Waktunya sudah tiba,
>"suara yang sudah sangat kukenal langsung menyergap pendengaranku.
>
>Aku tertegun, sementara sopir taksi sudah melotot tak sabar, hendak
>menagih ongkos.  " Jangan keraskan hati lagi, sudah saatnya mengakhiri
>semua kebencian. Pulanglah, atau kau akan menyesal seumur hidup! "
suara
>itu kembali terdengar, kali ini nadanya menyakitkan.
>
>Sudah hampir sebulan ini, kata-kata yang sama didengungkan terus oleh
>Sang penelepon. Aku sudah katakan padanya, tak perlu repot-repot
>membujuk lagi. Aku tetap pada keputusanku, tidak bersedia memenuhi
>keinginannya. Titik.
>
>Namun, anehnya, saat berada di Bali, ketika seharusnya aku sibuk
>mengamati pernak-pernik kegiatan pameran,aku malah sering
>terbengong-bengong. Seperti mantra, isi pesan telepon itu berbalik
>menghantui, membuat setiap detik hidupku menjadi seperti bara api.
>Batinku bergolak hebat. Antara rasa sayang dan dendam. Antara rasa iba
>dan kepongahan. Sejujurnya, aku sudah merasa sangat letih menanggung
>beban ini. Mungkin, Tuhan memang khusus merencanakan saat ini untuk
>mempertemukan kami berdua. Saat kami harus bicara tentang kepahitan
masa
>lalu.
>
>Dengan tangan masih memegang ponsel erat-erat, aku menghitung dalam
>hati.Sudah berapa lama kenangan buruk itu menyiksaku? Lebih dari lima
>belas tahun. Sama sekali bukan waktu yang sebentar. Jauh dari dalam
>lubuk hati, aku benar-benar ingin mengakhiri semuanya. Mulai belajar
>memaafkan lagi, belajar menyayangi lagi, belajar melupakan segala
>sesuatu yang telah terjadi,
>belajar untuk memiliki hati dan jiwa yang baru. Ya, aku harus segera
>memulainya. Sekarang. Dengan mantap, aku meminta sopir taksi memutar
>kembali mobilnya dan mengantarku ke bandara.
>
>Karena ada kerusakan teknis, lewat pukul delapan malam barulah pesawat
>mendarat di Pontianak. Untuk sampai di rumah sakit tempat Mama dirawat,
>aku masih harus meneruskan perjalanan sekitar empat puluh menit lagi
>Menggunakan mobil sewaan. Di dalam mobil yang pengap karena asap rokok
>dan keringat lima orang lainnya, aku kembali mempertanyakan niat
hatiku.
>Bagaimana jika Mama menolak bertemu denganku? Bagaimana jika ternyata
>seluruh keluarga juga ikut menghina, lalu mengusirku? Kalau itu yang
>terjadi, berarti harga diriku akan remuk dua kali, tanpa sisa sedikit
>pun. Ya, Tuhan, sudah benarkah keputusanku kali ini?
>
>Di depan salah satu kamar rumah sakit, aku melangkah mondar-mandir tak
>keruan. Ternyata, bukan hal mudah untuk masuk ke dalamnya, lalu
menyapa,
>"Apa kabar,Mama? Aku sudah datang! "  Untuk menenangkan jantungku yang
>rasanya berdebar tiga kali lebih cepat, aku segera menyingkir ke ujung
>lorong yang redup. Dengan gelisah aku bersandar di tembok, sambil
>berulang kali mengetukkan hak sepatu di lantai yang kusam.
>
>Alangkah jahatnya! Aku memang anak durhaka! Begitu teganya aku
>membiarkan dia terkapar sendirian di dalam sana, sekarat menghadapi
>ajal. Padahal, aku sudah mengetahui penyakitnya sejak tiga tahun lalu,
>tapi tak pernah sekali pun aku berniat menjenguknya, apalagi
>mendampingi di saat-saat terakhirnya.
>
>Tapi, hei…  tunggu dulu! Jahat? Aku jahat? Bukankah wanita itu jauh
>lebih jahat? Lihat saja apa yang selama ini dia lakukan padaku! Dia
>bukan saja tidak mengasihiku, tapi juga ingin melenyapkanku dengan
>segala macam cara.Dia ingin membunuhku! Aku, darah dagingnya sendiri.
>
>Masih teringat jelas pertengkaran kami yang terakhir,yang terhebat, dan
>yang paling tak bisa kulupakan.Setiap suku katanya bahkan masih aku
>hafal dengan jelas.
>
>"Waktu itu Mama tidak punya pilihan lain, Mei Cen. Mengertilah sedikit!
>Pikirmu, cuma kamu yang susah, cuma kamu yang dapat masalah? Kamu tidak
>pikirkan bagaimana keadaan Mama? Enak saja kamu bicara, sepertinya
>paling pintar sedunia! Semua yang kalian pakai dan makan itu hasil
jerih
>payah Mama, tapi kamu sama sekali tidak tahu terima kasih. Tidak tahu
>balas
>budi! Anak tidak tahu diuntung! Benar-benar anak pembawa sial! "
>
>Darahku langsung menggelegak, menyembur memanasi kepala. Anak pembawa
>sial, itulah ungkapan yang paling sering aku terima selama tinggal di
>rumah ini
>
>"Mama tidak perlu khawatir lagi soal uang! Mulai sekarang, tanggungan
>Mama berkurang satu. Aku akan mengganti setiap rupiah yang Mama pakai
>untuk membiayai hidupku selama ini. Setiap rupiah! Aku bersumpah, tidak
>akan pernah menginjak rumah ini lagi! Akan kubuktikan, aku bisa hidup
>tanpa kalian! " jeritku membabi buta, lalu menerjang kamar, dan
mengemas
>barang-barangku.
>
>"Silakan! Silakan kalau kamu mau pergi! Hei, sekali kamu minggat dari
>rumah ini, selamanya pintu ini tertutup buatmu! Kamu dengar itu? Dasar
>anak sinting! Sejak di kandungan saja sudah bikin pusing, sudah besar
>tambah bikin masalah! Anak kurang ajar, anak durhaka! Makin cepat kamu
>keluar dari rumah ini, makin baik! "  teriak Mama, melengking tinggi
>
>Dengan berurai air mata, aku lemas terduduk di tepi ranjang. Malang
>benar nasibku. Lahir tak dikehendaki, hidup pun tak punya arti. Berjam
>jam lamanya aku menangisi diri, sambil emasukkan barang-barangku yang
>tak seberapa banyak. Aku tak tahu akan ke mana. Tapi, keinginanku saat
>itu hanya satu Pergi jauh dan tidak kembali lagi
>
>Hanyut dalam lamunan, pipiku mulai dibasahi air mata. Kejadian yang
lalu
>itu menyisakan dendam dan kebencian luar biasa di antara aku dan Mama.
>Aku bertekad, tak ingin lagi menggoreskan namanya dalam hidupku. Begitu
>juga sebaliknya. Kami bertahan dalam benteng pembenaran diri
sendiri.Aku
>berjuang luar biasa keras demi memenuhi sesumbar sumpahku, tanpa pernah
>berpikir
>untuk kembali ke kota ini lagi.
>
>Tapi, suratan hidup tampaknya tak bisa diganggu gugat.Sampai akhirnya,
>sekarang aku ada di sini. Duduk menatap langit, tak tahu harus berbuat
>apa. Bulan di ujung rimbunan pohon rupanya sedang malas menyembulkan
>sinarnya, membuat kulit tanganku makin pucat dan gemetar. Air mataku
>menetes lagi.

September 1968
>Aku mengerjapkan mata berkali-kali. Rasanya, ruangan ini tak sama
dengan
>yang kemarin. Tidak ada mainan bola yang digantung di atas kepala.
Tidak
>ada gambar ikan berenang dilukis di tembok. Tidak ada balon warna-warni
>melambai di dekat jendela. Sambil menggeliat melemaskan otot yang masih
>agak kaku, aku menelengkan kepala. Kenapa sepi sekali? Mana
>teman-temanku? Bukankah semestinya mereka juga ada di sini, berbaring
>berjajar dalam boks yang bersekat-sekat? Biasanya teriakan mereka
>membuat aku marah. Berisik sekali. Walaupun agak menyebalkan, aku
sayang
>pada mereka.
>
>Ingat soal minum, perutku lapar bukan main. Biasanya, wanita berbaju
dan
>bertopi putih selalu datang untuk memandikan dan mendandaniku dengan
>bedak wangi. Setelah itu, dia pasti akan mengayun-ayun, sambil
>menyorongkan botol susu ke mulutku. Ah, enaknya! Aku mulai menggesek
>gesekkan kaki, terasa lengket. Kenapa,sih, tidak ada yang mengganti
>popokku? Basah dan dingin menempel di kulit, belum lagi ditambah tiupan
>angin dari jendela kayu yang terbuka. Coba tunggu sebentar lagi, siapa
>tahu wanita berbaju dan bertopi putih akan muncul dan menyapaku seperti
>biasa,  " Halo manis, sudah bangun? "Tapi, setelah lama menunggu, pintu
>itu tetap tertutup. Aduh, aku sudah tak sabar lagi.
>
>Mendadak pintu terbuka dengan keras, membuatku spontan berteriak kaget.
>Seseorang berjalan masuk. Siapa wanita ini? Kenapa dia tidak berbaju
dan
>bertopi putih? Sambil terisak-isak dengan muka merah, aku mencoba
>mengingat. Wah, mukanya tidak ramah. Aku pikir dia akan segera
>menggendong dan memberiku minum, tapi … .Hei, dia kembali berjalan ke
>arah pintu, membuka,
>dan menutupnya lagi, seolah tidak peduli pada tangisanku.
>
>Kenapa aku sendirian, dibiarkan kelaparan dan kedinginan seperti ini?
>Huh, lebih enak tinggal di perut Ibu. Mau makan, tinggal isap. Makanan
>akan langsung sampai di depan mulut. Mau berhangat-hangat, tinggal
>bergelung di selimut cairan ketuban. Semua serba enak, tidak perlu
>capai-capai menangis jika ingin sesuatu Ups! Tunggu dulu! Ibu? Apakah
>wanita yang tadi datang itu ibuku? Bisa jadi. Berarti, aku sudah ada di
>rumah dan ini kamarku? Asyik juga, paling
>tidak aku tidak perlu repot berdesak-desakan tempat dengan teman-teman
>lain seperti kemarin. Tidak perlu berebut minum, mainan, dan berebut
>minta perhatian. Aku sendirian. Hore! Aku jadi raja! Enak juga, ya,
>punya ibu. Tapi, mana dia? Oh, itu dia datang lagi. Tapi, kenapa, sih,
>dia selalu membuka dan menutup pintu de-ngan suara sekeras itu?
>Telingaku jadi sakit.
>Aku menangis lagi.
>
>Tangisanku makin keras ketika wanita itu menyentuh dan menyekaku dengan
>kasar. Rupanya, dia marah padaku karena buang air besar. Lalu bagaimana
>lagi? Umurku kan baru 5 hari? Aku belum bisa membersihkan kotoranku
>sendiri.  Minumnya mana, Bu? Yah, kok, susunya dingin… . Tapi,
>biarlah, daripada tidak sama sekali. Karena kelaparan dan hanya
disuguhi
>sedikit, aku
>melengkingkan suara, tanda minta tambah. Walau dengan muka galak dan
>mulutnya mengomel, dia memberiku sedikit susu lagi.
>
>Setelah menutup jendela, ia lalu membuka bajuku dan menyeka dengan air
>hangat. Aku asyik memerhatikan wajahnya. Rasanya, wanita berbaju dan
>bertopi putih yang selalu menemaniku lebih cantik dan kurus, juga
harum.
>Sedangkan wanita di depanku bertubuh agak gemuk dan memiliki raut wajah
>keras. Pakaiannya mirip seperti gorden. Tapi, tak apa, dia adalah
ibuku.
>Hmm… enaknya aku panggil apa, ya? Ibu, Mama, Mami, atau Bunda? Lebih
>enak Mama.Mudah mengucapkannya.
>
>Wah, setelah mandi aku merasa lebih segar, walau masih kedinginan.
>Bajuku bertangan pendek, tanpa dibalut kain bedong, tanpa kaus kaki.
>Bawa aku berjemur di luar, Mama. Sinar matahari begitu menggoda untuk
>disapa pagi ini. Atau, kalau tidak, dekaplah aku sebentar di dada Mama,
>karena aku ingin kehangatan.
>
>Aku mencoba menggapai tangan Mama, menampilkan senyum termanisku,
>berharap ia akan tertawa dan menggelitiki pipiku. Tapi, Mama malah
>membenahi ember dan baju kotor, lalu kembali menghilang dari balik
>pintu. Sia-sia aku menunggunya terus pagi ini, berharap ia mau bermain
>denganku sejenak. Sepanjang sisa hari itu Mama hanya menjengukku tiga
>kali. Datang melongok untuk mengganti popok dan menyodorkan botol susu
>yang isinya tak banyak
>
>Malam hari, aku tidur bersebelahan dengan Mama. Dia hanya mengayunku
>sebentar, tidak memberi pelukan selamat tidur atau ciuman. Aku menangis
>sedih karena ingin dininabobokan, tapi Mama malah membalikkan tubuh,
>memunggungiku. Aku mulai protes dan meronta, tapi yang kudapat adalah
>cubitan kecil di kaki. Sakitnya … . Lagi-lagi aku menjerit. Makin
>melengking suaraku, makin dalam Mama menekuk tubuhnya.
>
>Akhirnya, aku menyerah. Karena lelah mengisi hari dengan terlalu banyak
>tangisan, akhirnya aku tertidur dengan mengulum jempol tanganku. Ini
>hari pertamaku datang ke rumah, bertemu sosok Mama yang sudah sembilan
>bulan mengisi bagian hidupku, tapi aku sudah merasa tertolak.

Januari 1972
>Seluruh kejadian itu berulang terus hingga aku menginjak tiga tahun.
>Walau setiap malam aku tidur dengan Mama, aku hampir tak pernah
mendapat
>pelukan dan ciuman sayang. Paling-paling hanya usapan di kepala.
>Kata-kata manis, nyanyian kecil, atau dongeng pengantar tidur juga tak
>aku dapatkan.
>
>Biasanya, kalau Mama bicara, kalimatnya pendek-pendek dan nadanya
datar,
>kadang-kadang agak membentak. Padahal, aku ingin tahu rasanya
>bermanja-manja,apalagi jika aku sedang sakit. Badan rasanya sungguh tak
>enak, tidur tak nyenyak, makan pun tak suka. Kalau saja Mama mau
sedikit
>memanjakan aku dengan pelukan,aku sudah cukup terhibur.
>
>Bukan cuma dalam hal sentuhan dan kata-kata saja Mama bersikap pelit,
>soal keperluanku yang lain juga begitu. Makan dijatah, minum susu
>dibatasi. Kalau masih lapar, minum saja air putih banyak-banyak,begitu
>kata Mama.  " Di rumah ini bukan cuma kamu yang butuh makan, Mei Cen.
>Masih ada enam kakak, dua kakak ipar, Tante Lin, Oma, dan Mama. Kita
>harus saling berbagi,jelas?"tegur Mama galak, ketika suatu kali aku
>merengek minta porsi daging gorengku ditambah.
>
>Porsi makan kami di rumah adalah dua kali sehari,sekerat kecil daging
>dan separuh bagian telur satu kali seminggu, sementara sisanya adalah
>sayur-mayur saja. Mula-mula, tentu saja aku menolak aturan itu dengan
>tangisan merajuk dan mulai menga-muk. Tapi, setelah merasakan panasnya
>sabetan tangan Mama di pantatku, lama-kelamaan aku jadi terbiasa dan
>bisa
>belajar menahan lapar lebih lama.
>
>Mandi cukup satu kali saja sehari, malah kalau perlu cuci muka saja
>sepanjang minggu. Irit air, irit sabun. Kalau kutanya mengapa, jawab
>Mama singkat saja,  " Karena kita bukan orang kaya, Mei Cen.
Mengertilah
>sedikit.
>"Tentu saja aku belum bisa mengerti apa arti perkataan itu, seperti
juga
>ketidakmengertianku tentang kondisi tangan dan kakiku.
>
>Kedua kakiku selalu ditutup kain menyerupai sepatu dan tidak boleh
>dilepas kecuali mandi atau tidur. Tanganku juga. Padahal, aku sudah
>bilang pada Mama bahwa aku kepanasan. Mama berkeras mengatakan bahwa
>tangan dan kakiku sedang tumbuh membesar. Jadi, harus dibungkus dengan
>telaten supaya pertumbuhan tulangnya bagus. Seperti buah mangga saja,
>katanya. Rapat-rapat
>dibungkus supaya cepat masak.
>
>Kalau kain yang melilit tangan dan kaki itu sering dibuka, nanti
>pertumbuhannya terganggu, begitu Mama berpesan. Masih belum cukup
dengan
>penjelasannya, Mama merasa perlu untuk mengancam akan memukuli dan
>mengunciku di kamar gelap berhari-hari, jika aku berani membuka ikatan
>di tangan dan kakiku, tanpa seizinnya. Jadi, dengan sangat terpaksa aku
>mengangguk
>mengiyakan
>
>Pekerjaanku setiap hari hanya duduk bermain di pojok kamar, ditemani
dua
>boneka bekas yang sudah kumal. Mama tidak mengizinkanku keluar rumah.
>Tak pernah aku merasakan nikmatnya jalan-jalan pagi, melihat kerumunan
>burung, berkejaran di tanah lapang, atau naik sepeda di sore hari.
>Hari-hariku diisi dengan sepi, tak punya teman bicara. Seisi rumah
>terlalu sibuk untuk diajak bermain. Mama dan adiknya, Tante Lin, harus
>banting tulang mencari uang karena Papa
>sudah tak ada.
>
>Mohan Liaw, ayahku yang berdarah Dayak-Tionghoa itu, semasa hidupnya
>bekerja sebagai penggali sumur. Ia meninggal karena kecelakaan lalu
>lintas ketika aku masih berada dalam kandungan. Dua kakak laki-laki
>tertua sudah menikah, tapi masih tinggal serumah. Empat kakak lain
punya
>urusan sendiri karena mereka sudah beranjak remaja dan lebih senang
>bermain dengan teman pria daripada bermain masak-masakan dengan aku.
>
>Setiap hari pukul dua pagi, Mama dan dua kakak laki-lakiku sudah
>beranjak pergi ke peternakan di luar kota untuk membeli puluhan ayam.
>Pulang ke rumah, mereka dibantu empat kakak perempuan mencabuti
>bulu-bulu ayam dan memotongnya. Pukul lima pagi, Mama dan dua kakak
ipar
>membawanya ke pasar untuk dijual. Pulang ke rumah saat menjelang sore,
>Mama sudah kelihatan sangat lelah dan aku tidak boleh mengganggunya
>dengan rengekan untuk menemaniku bermain. Aku juga tidak boleh
>mengganggu Tante Lin yang sudah lelah karena setiap hari harus membuat
>kue-kue untuk dijual.
>
>Bermain dengan Oma? Yang benar saja, umur Oma sudah 84 tahun. Kakinya
>lumpuh, bicaranya sudah tak jelas, telinganya pun tak berfungsi baik.
>Kerjanya sama denganku. Setiap hari hanya duduk-duduk melamun saja di
>kursi. Walau begitu, Oma baik karena setiap hari dia pasti memberiku
>uang, sekadar lima puluh atau seratus rupiah. Aku rajin menyimpannya
>dalam kotak kecil yang kuamankan di kolong ranjang.
>
>Dibandingkan Mama yang banyak bepergian, Tante Lin lebih memungkinkan
>untuk menemaniku berlama-lama di rumah. Mengajariku bicara, membacakan
>buku cerita, menyuapi makan, bahkan membopongku ke kamar mandi karena
>aku belum bisa berjalan. Hal yang mengherankan. Karena, aku sering
>melongok dari jendela dan melihat beberapa anak tetangga seumurku sudah
>pandai berjalan,bahkan berlari mengejar layang-layang. Sedangkan aku

>berjalan saja tidak bisa. Kalau aku mencoba berdiri, pasti jatuh. Sakit
>dan ngilu sekali rasanya.
>
>"Mestinya aku sudah bisa berjalan kan, Ma? "  tanyaku suatu sore.
>Tampaknya, Mama tidak mendengar sehingga aku harus mengulang
>pertanyaanku beberapa kali. Kali keempat barulah Mama mengangkat wajah
>dari tumpukan baju kotor yang tengah dicucinya. Ia terdiam sebentar,
>lalu
>menjawab lirih,
>
>"Kakimu belum kuat untuk diajak berjalan.
>"Karena kakiku bengkok? "
>"Bukan! Umurmu masih kecil, jadi belum bisa jalan sendiri. "
>"A Ming dan Budi seumur denganku, tapi mereka sudah pandai berjalan. "
>"Mereka lain! Mereka anak laki-laki, kaki mereka lebih kuat. "
>"Oh … . "  Aku mencoba mencerna penjelasan Mama. Mungkin, betul juga
>penjelasan Mama. Aku percaya padanya, Mama tak mungkin bohong
>"Lalu, kapan kakiku kuat, Ma?
>"Nanti, kalau kamu sudah besar.
>"Kapan aku besar, Ma? "
>"Nanti, kalau sudah berumur lima tahun. "
>"Oh … . "  Aku menghitung-hitung dalam hati. Itu berarti aku harus
>menunggu dua tahun lagi. Hmm …tidak terlalu lama.
>"Lalu, tanganku? Kenapa tanganku juga harus selalu ditutup, Ma? "
>
>Kali ini Mama menghela napas, sambil menghapus keringat di dahi dengan
>punggung tangannya. "Supaya tanganmu tidak kedinginan, Mei Cen. Kalau
>kedinginan, tanganmu sering kram.
>
>"Kram itu apa? ‘
>"Kejang, susah bergerak. "
>"Tapi, nanti tanganku bisa sembuh? "
>"Ya, kalau kamu sudah besar. ‘
>"Kalau aku sudah berumur lima tahun? "
>"Ya. "
>"Tidak perlu pakai kain lagi? "
>"Ya. "
>"Sungguh? Mama tidak bohong,  ‘ kan? Mama janji? " kejarku dengan nada
>menuntut. Dalam hati, aku gembira bukan alang kepalang. Asyik, sebentar
>lagi aku bisa berjalan!
>
>Aku begitu sangat merindukan datangnya hari ulang tahunku yang
>kelima.Berharap bisa berjalan dan berlari sekuat macan, dan tanganku
tak
>lagi disarungi kain seperti bantal. Sambil menunggu saat yang Mama
>janjikan itu, aku tetap berusaha belajar berjalan. Minta ampun
susahnya!
>Mencoba berdiri dengan berpegangan pada semua benda yang ada, lalu
>menyeret kaki untuk melangkah satu dua. Sakitnya jangan ditanya, tapi
>aku tetap memaksakan diri. Lutut dan siku sudah lebam biru keunguan
>terkena benturan setiap kali aku terjatuh. Tidak cuma itu. Aku juga
>sulit menggerakkan jemari tangan untuk mengambil sesuatu, apalagi
barang
>yang kecil. Memegang sendok atau menjumput kancing, misalnya. Jari-jari
>tangan rasanya kaku dan aneh.
>
>Dan, lagi-lagi Tante Lin datang sebagai penyelamat. Ia berbaik hati
>meluangkan waktu istirahatnya untuk melatihku menggerakkan kaki dan
>tangan, sementara Mama dan kakak-kakakku tidak bisa terlalu diharapkan.
>Karena terlalu memaksa diri berlatih, aku jadi sering menangis karena
>kesakitan dan kelelahan. Tapi, setiap kali itu juga ucapan Mama bahwa
>pada umurku yang
>kelima aku akan bisa berjalan, datang menyemangatiku.
>
>Setiap hari aku rutin mencoreti kalender dengan spidol merah,
menghitung
>hari demi hari, takut kalau ulang tahunku yang kelima bakal terlewat.
>Nanti aku akan memakai baju terbagus dan mengundang semua teman
>tetanggaku untuk merayakannya, sambil bermain kejar-kejaran di halaman
>rumah. Pasti menyenangkan sekali. Cepatlah datang, cepatlah datang! Aku
>sudah tidak sabar menanti.

September 1973-1983
>Sayangnya, mimpi itu tak pernah jadi kenyataan. Tepat di hari ulang
>tahunku yang kelima, saat ayam masih belum berkokok, aku sudah bangun.
>Kunyalakan lampu, turun dari ranjang, lalu me-rayap, sambil berpegangan
>pada besi tempat tidur. Sesampainya di depan lemari kaca, aku mencoba
>berdiri tegak dan berjalan. Tapi,baru beberapa langkah, aku jatuh dan
>menabrak meja.
>Suara dentuman keras langsung membangunkan Mama,berbarengan dengan
>jatuhnya botol-botol kaca dan gelas.
>
>"Apa-apaan, sih, Mei Cen? "  teriak Mama, ketika melihatku terduduk di
>antara remukan kaca. Mama memapahku kembali ke ranjang. Aku menangis
>keras.  " Aku tak bisa jalan! Aku tetap
>tidak bisa jalan!"
>"Kamu kenapa? Kalau mau ambil sesuatu, bilang pada Mama, nanti Mama
>ambilkan! Lihat, tuh, barang-barang pecah semua! "  suara Mama tinggi.
>Mungkin, ia gusar karena tidurnya terganggu. Sudah dua hari Mama tidak
>berjualan karena sakit flu.
>  "Hari ini ulang tahunku, Ma! "
>"Iya, lalu kenapa? "  bentak Mama, sambil memunguti beling.
>Tangisku menghebat. Ia tidak ingat janjinya.
>"Mama bohong! Mama bohong! "  teriakku, sambil melempar bantal dan
>guling ke arahnya. Tiba-tiba Mama mendekati aku. Tanpa kuduga, ia
>menampar mulutku dua kali.
>"Bisa diam tidak? Subuh-subuh begini teriak-teriak seperti orang gila!
>Diam! Diam tidak? "  Tangan Mama masih teracung di udara, siap menampar
>lagi. Raut wajahnya bengis. Aku merapat ke tembok dan menangis tanpa
>suara. Takut, marah, kecewa, dan sedih.
>"Kenapa Mama bohong? "  tanyaku, pelan.
>"Bohong apa, sih? "  jawab Mama, galak.
>"Dulu Mama bilang, aku pasti bisa jalan kalau berumur lima tahun. Kata
>Mama, aku belum bisa jalan karena aku anak perempuan. Masih kecil,
masih
>tiga tahun. Nanti kalau sudah umur lima tahun, baru bisa jalan seperti
>si Aming. Waktu itu Mama janji,  ‘ kan? Sekarang tanggal 9 September,
>Ma. Umur Mei Cen lima tahun. Tapi, kenapa Mei Cen masih jatuh kalau
>berjalan?"  Aku
>menangis lagi.
>
>"Mama bilang begitu? "  tanyanya, seakan lupa. Seolah tak terjadi
>apa-apa, Mama memutar badan dan kembali menyapu.  " Mungkin, para dewa
>masih belum mengizinkannya. "
>Aku bengong, tak mengerti.
>"Kamu harus lebih banyak berdoa pada para dewa, Mei Cen. Supaya
>dewa-dewa senang dan menyembuhkan tangan dan kakimu. Kalau kamu rajin
>sembahyang dan tidak nakal, pasti dewa akan cepat menyembuhkan, "
>jawaban Mama terdengar meyakinkan.
>"Betul begitu? Mama tidak bohong? " Mama menggeleng, lalu memaksaku
>merebahkan diri.
>"Sekarang, kamu tidur lagi. Ayo!" perintahnya.
>
>"Kenapa kita tidak sembahyang sekarang saja, Ma? Lebih cepat kita
>sembahyang, lebih cepat dewa
>Menyembuhkanku,kan? "
>"Nanti siang saja. Mama masih mengantuk, "  katanya. Mama menguap
>lebar-lebar lalu menggulingkan badan di sisiku.
>
>Jarum jam berdetak mengiringi gerakan bola mataku yang tak bisa
>dipejamkan lagi. Di dalam hati aku memendam begitu banyak pertanyaan.
>Kenapa dewa memberiku penyakit ini? Kenapa orang lain tidak? Penyakit
>apa ini? Ketika jarum jam menunjukkan angka delapan pagi, aku
>menarik-narik selimut Mama.  " Sudah siang, Ma! Ayo, kita sembahyang! "
>
>Walau agak susah dibangunkan, sambil terkantuk-kantuk Mama mau juga
>membopongku ke ruang tengah. Di sana ada altar kecil dipenuhi dupa dan
>lilin merah yang setiap hari menyala. Dupa dan lilin-lilin itu mengapit
>beberapa botol kecil berisi abu leluhur keluarga. Aku mengambil tiga
>batang hio dan menyalakannya, lalu membungkukkan badan dalam-dalam,
>tanda hormat kepada dewa dan arwah leluhur.
>
>"Para dewa dan arwah leluhur, sembuhkanlah aku agar aku bisa berjalan,"
>teriakku, lantang. Sepanjang hari, di sela-sela kegiatanku berlatih
>berjalan, aku berdoa dengan suara keras, takut dewa tidak mendengar
>suaraku. Aku menaruh beberapa piring berisi apel dan jeruk sebagai
>sesajen.
>
>Lepas beberapa hari, aku mulai gelisah. Akhirnya, kuputuskan untuk
tidak
>meninggalkan altar barang sekejap pun. Seisi rumah menertawakan dan
>mengolok-olok. Tapi, aku tidak peduli. Aku ingin tidur di depan altar
>saja supaya bisa berdoa kapan pun aku mau. Mulanya, Mama marah, tapi
>belakangan dia diam saja.

Aku sungguh-sungguh berdoa. Tak jarang aku menangis karena begitu ingin
>bisa menggerakkan kakiku. Aku tidak mengerti apa penyebab sakitku ini,
>tapi aku mengharapkan kemurahan para dewa dan arwah leluhur agar mau
>mengasihaniku.
>
>Hampir setahun aku terus membungkukkan badan di depan altar dan
>berteriak-teriak sampai suaraku serak. Tapi,mimpiku belum terwujud. Aku
>mulai jemu. Sepertinya,dewa tidak memperhatikan kerasnya usahaku.
>Mungkin,dewa terlalu sibuk mengurusi hal penting dan tidak mau
>mengurusi permohonan anak kecil.
>
>Di umurku yang ketujuh, aku makin rendah diri mendengar ejekan orang
>sekampung. Kata-kata seperti  ‘Itu Si Pincang! ‘  atau  ‘ Hei, Ayam
>Buntung lewat! ‘atau  ‘ Kasihan, cantik-cantik, kok, cacat! ‘memerahkan
>telinga dan juga menghancurkan hatiku. Mama tidak ambil pusing dengan
>keluhanku. "Ah, mereka itu nakal, suka iseng. Biarkan saja, nanti akan
>diam sendiri" katanya, pendek.
>
>Komentar Tante Lin lebih baik.  " Kamu tidak pincang,tidak buntung.
Kamu
>bisa berjalan sedikit,  ‘ kan? Bilang saja, kakimu sekarang memang
>sakit, tapi akan segera sembuh. "
>
>Tak tahan terus diganggu rasa penasaran, suatu hari aku nekat membuka
>sepatu kain dan sarung yang menyelubungi tangan dan kakiku. Dalam kamar
>terkunci, susah payah aku menggunakan gigi untuk menarik tali kecil
yang
>membelit gulungan kain di tangan. Apa yang kulihat sangat membuatku
>terpukul dan nyaris histeris.
>
>Tangan yang sejak dulu terlihat begitu aneh, tetap pada bentuknya. Tak
>ada perubahan. Tak ada pertumbuhan tangan yang indah seperti penari,
>seperti yang Mama janjikan. Masing-masing tangan harus puas hanya punya
>tiga jari. Jumlah kuku pun tak lengkap.
>
>Aku membuka ikatan yang membelit kaki sepanjang betis.Pemandangan
sangat
>tidak sedap pun kembali menerpaku.Kakiku memang ada dua, tapi tidak
>sempurna. Bentuknya ganjil. Kanan dan kiri tidak sama. Kakiku tidak
>bertelapak dan berjari. Yang disebut telapak pada kaki kiriku adalah
>segumpal daging tanpa kuku, tak berbentuk. Kaki kananku masih lebih
>baik.Telapak kaki masih sedikit berbentuk, walau tak panjang. Tapi,
>hanya berjari tiga dan berkuku dua. Sayangnya, kaki kanan yang agak
>lumayan itu melesak bengkok ke arah dalam.
>
>Aku menangis meraung-raung. Apa gunanya punya tangan, kalau tak bisa
>dipakai? Apa gunanya punya kaki, kalau tak bisa berjalan? Kini aku
sadar
>mengapa semua orang menghinaku. Mereka semua benar! Aku seperti ayam
>buntung pincang berwajah manusia. Aku cacat! Cacat!
>
>Seharian aku mengunci diri di kamar. Tak mau makan dan minum. Hanya
>bergolek, terisak di tempat tidur. Tak kupedulikan teriakan Mama dan
>Tante Lin yang menggedor pintu seperti orang kesetanan, berteriak
>memanggil namaku. Lewat pukul tujuh malam, aku merangkak lemas
menggapai
>pintu dan meraih kunci. Bukan karena lapar atau haus. Aku ingin
bertanya
>pada Mama, kenapa selama ini ia berbohong.
>
>Begitu aku membuka pintu, tangan Mama yang besar langsung merenggut
>rambutku dan membenturkan ke dinding berulang-ulang. Masih belum cukup,
>aku dihadiahinya tamparan di pipi kiri dan kanan.
>
>"Anak sialan! Untuk apa mengunci pintu seharian? Coba bilang, ngapain
>kamu di dalam? Ngapain? "  teriak Mama.
>Air mataku meleleh lagi. Tapi, aku tak bisa melawan. Tante Lin mencoba
>memapahku bangun. Kakak-kakakku hanya menonton. Sedikit pun mereka tak
>tergerak untuk mengulurkan tangan. Wajahku yang memar berpaling
>memandangi mereka. Kenapa mereka tidak mencegah ketika Mama
menghajarku?
>Kenapa mereka tidak menghiburku, memeluk, dan melindungiku? Aku adalah
>adik mereka. Atau, mereka menganggapku makhluk aneh yang tidak pantas
>jadi manusia?
>
>Dengan mata nanar kutatap wajah Mama. Perlahan aku menyorongkan kedua
>belah tanganku ke hadapannya.
>
>"Kenapa Mama bohongi Mei Cen lagi? "  desahku. Mama dan Tante Lin
>langsung terkesiap, sadar bahwa tangan dan kakiku tidak lagi terbalut
>ikatan kain. Rona kaget mereka tak bisa ditutupi. Mereka menoleh ke
>belakang.
>"Siapa yang buka? A Ling? Atau, kamu, Heng? "  tanya Mama.
>Satu per satu mereka menggeleng, lalu beranjak pergi. Mama menatap lama
>ke dalam mataku. Kupikir ia akan menghajarku lagi. Tapi, ia bangkit
>menuju ruang dalam dan kembali dengan sepiring nasi di tangan.
"Makanlah
>dulu. Kamu pasti lapar. Sesudah makan, langsung tidur, " katanya, acuh
>tak acuh.
>"Tangan dan kaki Mei Cen kenapa, Ma? Kenapa bentuknya seperti ini?"
>"Tidak sekarang, "  Mama bergegas menjauh, diikuti Tante Lin yang
sempat
>mencium pipiku. Aku termangu memandangi nasi di depanku, tanpa berniat
>menyentuhnya. Kejadian hari ini terlalu pedih,membunuh selera makanku.
>
>Hari-hari berikutnya Mama bersikap seolah tak ada apa-apa. Tante Lin
>juga berusaha menghindari
>pertanyaanku, tapi tetap melayaniku. Bagaimana mungkin Mama begini,
>setelah kemarin menyiksaku sampai babak belur? Tidakkah Mama tahu bahwa
>peristiwa itu terekam dalam jiwaku, menimbulkan luka emosi yang
>mengobarkan kebencianku?
>
>Suatu siang, ketika aku sedang duduk melamun di depan rumah, seorang
>anak tetangga lewat dan mulai cari gara-gara. Setelah beradu mulut yang
>diakhiri kontak fisik, aku masuk ke rumah. Melihat lengan bajuku
>terkoyak dan pipi merah, alis Mama terangkat. Situasi langsung diambil
>alih Tante Lin.
>
>"Kenapa? Kok, seperti habis dipukuli? "  tanya Tante Lin, bergegas
>memeriksa lukaku. Aku menggigit bibir, menahan tangis.
>"Memang dipukuli, "  jawabku, pelan.
>"Siapa yang memukuli? "
>"Wanto. Ia mengatai aku ayam buntung. Aku tidak mau dikatai seperti
itu.
>Wanto marah, tidak terima. Tahu-tahu, dia langsung memukul aku. " Aku
>menghambur ke arah Mama. "Kenapa tangan dan kaki Mei Cen begini, Mama?"
>isakku, lirih.
>"Ini sudah takdir, Mei Cen. Sabarlah. Jangan dengarkan omongan
tetangga.
>Mereka juga akan diam sendiri. "
>"Ceritakan apa yang terjadi padaku, Ma … . "
>"Sudah, jangan diingat-ingat lagi. Kita ke dokter saja, ya? " Mama
masih
>berusaha mengelak. Aku menggeleng berulang-ulang.  " Tidak, Mama harus
>cerita. Cerita yang sebenarnya. "
>
>Beberapa menit kami berpandangan. Perlahan, Mama mau juga bercerita.
>Sambil mengibaskan kemoceng di sela-sela kursi, ia bertutur dengan
suara
>yang hampir tak terdengar.
>
>"Dulu, sewaktu kamu masih ada di perut Mama, pagi-pagi Mama pergi ke
>pasar membeli ayam. Menurut orang Tionghoa, kalau sedang mengandung
>pantang memotong ayam, apalagi kakinya. Kata orang tua zaman dulu, bayi
>yang dikandung bisa cacat. Hari itu Mama lupa pada pantangan. Ketika
>kamu lahir cacat, Mama menyesal karena melanggar pantangan itu. "
>
>"Aku cacat cuma karena Mama memotong ayam sewaktu hamil? " jeritku, tak
>percaya

>"Percaya atau tidak, itulah yang terjadi. "
>"Apakah tak ada yang bisa mengobati cacatku? "
>"Dokter di kota bilang, kamu harus dioperasi. Badanmu disayat,
>dipotong-potong. Biayanya mahal sekali. Kita tidak punya cukup uang
>untuk itu, Mei Cen. Kalaupun bisa, rumah ini harus dijual. Lalu, kita
>harus tinggal di mana? Karena tidak punya uang dan tidak tega melihatmu
>dioperasi, Mama membungkus kaki dan tanganmu supaya tidak ada yang tahu
>keadaanmu."
>
>"Itu sebabnya aku tidak boleh main dan bersekolah seperti anak lain?
>Karena Mama malu? "
>"Mama takut kamu dihina. "
>
>Dihina. Ucapan itulah yang melecut semangatku. Kupaksa Mama
>mendaftarkanku ke sekolah. Miskin dan cacat adalah dua hal yang tak
bisa
>kuubah, tapi aku tak mau menambah satu lagi kekuranganku: menjadi
bodoh.
>
>Tergerak oleh tekadku, Mama membeli sepasang sepatu besi khusus untuk
>penyandang cacat. Jika memakainya, kakiku terasa berat sekali. Tapi,
aku
>harus mencobanya. Siapa tahu, telapak kakiku perlahan-lahan bisa
normal.
>
>Di sekolah aku makin sering menangis. Tak ada seorang teman pun yang
mau
>bergaul denganku. Aku sering kesulitan menulis cepat karena jari jari
>tanganku tak sebanyak orang lain. Biarpun sudah berlatih keras,
hasilnya
>tetap mengecewakan. Bila tiba jam olahraga, aku hanya gigit jari dan
>tinggal di kelas, sementara teman lain berlarian bermain bola kasti.
>
>Untunglah, keterbatasan fisik tidak memengaruhi kemampuan berpikirku.
>Walau aku terlambat bersekolah, tidak berarti aku lambat dalam
menangkap
>pelajaran. Perlahan tapi pasti, aku mulai menerima keadaanku.
>
>Tidak masalah, aku yakin bisa mengatasinya. Nilai raporku selalu jauh
di
>atas rata-rata. Di akhir tahun pelajaran aku tersenyum bangga karena
>prestasiku melebihi orang yang tak cacat. Sayang, Mama kurang terkesan
>dengan keberhasilanku itu. Ia hanya mengangguk, tanpa memberikan pujian
>sedikit pun. Ah …  begitu sulitnya aku merebut hati Mama.
>
>Menginjak remaja, kegiatanku di rumah tak banyak berubah. Tak mungkin
>aku membantu Mama memotong dan mencabuti bulu ayam. Kupilih membantu
>Tante Lin membuat kue. Mula-mula, hanya mengocok telur, menuang terigu,
>dan mengaduk adonan. Lama-kelamaan aku bisa mencetak aneka bentuk kue
>kering. Iseng-iseng, aku menjualnya kepada teman-teman di sekolah.
>Hasilnya
>kutabung sedikit demi sedikit.
>
>Sayang, hubunganku dengan Mama tak banyak berubah. Kami masih tidur
pada
>satu ranjang. Tapi, rasanya ia begitu jauh. Seperti ada tembok tebal
>yang menghalangi terciptanya kasih di antara kami. Aku sering menatap
>wajahnya yang terlelap di sampingku. Ingin berbicara, selayaknya ibu
dan
>anak. Ingin mencurahkan seluruh isi hatiku. Tapi, entah kenapa, aku tak
>bisa.
>
>Hubunganku dengan semua kakak pun kurang harmonis. Sejak kecil aku
>terbiasa dijadikan kambing hitam. Keadaan rumah berantakan, aku yang
>kena marah. Dagangan Mama tidak habis terjual, aku dapat omelan. Uang
>kakak hilang, aku dituding sebagai pelaknya. Pokoknya, tiada hari tanpa
>daftar kesalahanku.
>
>Di rumah kuno sebesar ini, aku merasa begitu kecil. Begitu tak
bernilai.
>Terlebih setelah Oma meninggal. Rasa kehilangan makin menerpa. Saat Oma
>masih hidup, aku terbiasa menungguinya di ranjang, menyuapi, dan
>membersihkan badannya. Hanya Oma satu-satunya orang yang memerlukan
>kehadiranku. Sedikit banyak itu membuatku merasa berarti. Namun, arti
>yang sedikit itu pun terampas tatkala Oma tiada. Aku kembali menjadi
>katak dalam tempurung, sepi terasing dalam
>kesendirian.

Oktober 1986
>Jarum jam mendekati angka 5. Tergesa-gesa kuoleskan lipstik warna pink,
>merapikan gaun, lalu memakai sepatu. Aku berdandan agak istimewa untuk
>menghadiri ulang tahun Dewi, teman sebangku.
>
>Ketika bercermin, aku bersyukur karena wajahku bisa dikatakan cantik.
>Gaun merah muda yang kupakai sangat cantik. Milik Mei Lan, kakak
>termudaku, yang terpaksa merelakannya. Aku masih ingat sorot mata dan
>komentarnya yang merendahkan, "Memangnya, temanmu yang ulang tahun
cacat
>juga, sampai merasa perlu mengundang kamu? Jangan-jangan, kamu yang
>memaksa minta diundang?
>"
>
>Aku hanya bisa menelan ludah. Tebakan Mei Lan kurang lebih benar. Dewi
>hanya menyampaikan berita lisan kepadaku, bukan kartu undangan. Aku
>tahu, itu Cuma basa-basi, karena selama ini aku membantunya
menghasilkan
>nilai 7 dalam setiap pelajarannya.
>
>Tetapi, masa bodoh. Diundang atau tidak, aku tetap pergi. Apalagi, aku
>sudah menyiapkan sepatu putih dengan taburan mutiara imitasi di
>sekelilingnya. Aku rela membobol tabunganku demi sepatu cantik ini.
>Sepatu yang kuharapkan bisa menimbulkan kesan berbeda bagi kedua
kakiku.
>Untuk malam ini, selamat tinggal sepatu besi!
>
>Karena rumah Dewi agak jauh, kami harus berkumpul di sekolah dan
>kemudian akan berangkat bersama. Aku berjalan kaki secepat mungkin. Tak
>kuhiraukan gerimis kecil yang mulai turun. sampai di sekolah tak satu
>teman pun terlihat. Setengah menangis aku melihat jam di pergelangan
>tangan. Ya, ampun! Lewat 7 menit dari waktu yang ditentukan! Mereka
>bilang akan menunggu dengan batas toleransi 15 menit. Bagaimana mungkin
>mereka tega berbuat begini?
>
>Malam itu aku terseok-seok pulang. Sakit hati dan sangat kecewa. Sambil
>terisak, aku memukuli kedua kakiku. Kenapa aku tidak bisa berjalan
lebih
>cepat? Semua gara-gara kaki sialan ini, kaki brengsek! Kaki cacat yang
>tidak berguna!
>
>Bukan cuma karena itu aku marah. Untuk ulang tahun Dewi, aku sengaja
>berdandan seteliti mungkin karena di situ ada Wisnu, sepupu Dewi. Aku
>ingin terlihat istimewa di depannya. Kaki sialan ini sudah merusak
>acaraku!
>
>Sampai di rumah, tampak Mama dan Tante Lin sedang duduk mengobrol di
>meja makan, ditemani beberapa stoples kue kenari buatanku. Melihatku
>basah kuyup, Mama hanya menoleh sekilas.
>
>"Tidak jadi pergi? "
>"Ketinggalan mobil, "  ujarku, tersendat.
>"Oh, "  hanya itu komentarnya. Sungguh, dadaku sakit sekali. Tak
bisakah
>Mama bersikap lebih peduli pada perasaanku, lebih menghargai? Sedikit
>saja? Agaknya, ia lebih tertarik mengunyah kue kenari. Tak bisakah ia
>bertanya dengan sikap lebih keibuan?
>
>Kuhabiskan sepanjang malam dengan simbahan air mata. Tangan dan kaki
>yang buruk rupa adalah sumber bencana dalam hidupku. Tak pernah aku
>bahagia. Di rumah diperlakukan seperti orang lain, di sekolah seperti
>makhluk asing. Lengkap sudah penderitaanku!
>
>Aku ingin merasakan kerlap-kerlip suasana pesta, bergembira, dan
>bernyanyi. Aku ingin bertemu pria pujaan. Siapa tahu, ada yang tertarik
>mengajakku berdansa. Aku ingin merasakan manisnya jadi gadis remaja.
>Salahkah keinginan itu?
>
>Sejak peristiwa Sabtu malam itu, aku jadi makin sensitif. Aku makin
>menarik diri dari lingkungan mana pun. Melihat sikapku yang aneh, Mama
>marah. Mama menghabiskan waktu dengan menyumpahi dan
mencercaku,kegiatan
>yang mungkin dirasanya lebih bermanfaat ketimbang memeluk atau
>Menanyakan keadaanku.
>
>Dalam keadaan tertekan, aku tenggelam dalam kesibukanku sendiri. Pergi
>sekolah sebelum orang lain bangun. Siang hari aku berdiam di ruang
>praktikum atau di perpustakaan, membaca. Di sore hari kuhabiskan waktu
>berjam-jam untuk membuat kue, disambung dengan belajar sampai larut
>malam. Aku ingin melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, tapi Mama
>punya pandangan sendiri.
>
>"Buat apa, Mei Cen? Tidak ada gunanya. Buang-buang uang saja! Lebih
baik
>uangnya ditabung, untuk biaya usaha atau kawin. "
>"Tidak banyak pekerjaan yang bisa dilakukan oleh lulusan SMU, Ma.
>Paling-paling jadi pegawai toko atau pekerja pabrik. Gajinya kecil.
>Kalau Mei Cen kuliah, kesempatan kerja pasti akan lebih luas, "
>bantahku.
>"Sok tahu kamu! Memangnya, kalau tidak kuliah tidak bisa hidup? Semua
>kakakmu tidak ada yang kuliah. Tapi, buktinya mereka bisa hidup. "
>"Iya, hidup, sih, hidup. Tapi, tidak ada kemajuan sama sekali. A Heng
>berdagang ayam di pasar, dari dulu sampai sekarang. Mei Lan jadi kasir
>di toko Ko Bun Liong dan Mei Ling jadi pelayan di rumah makan. Sekarang
>Mama suruh Mei Cen berjualan kue sampai tua? "  suaraku meninggi.
>"Kurang ajar! Berani-beraninya kamu menghina mereka? Mereka sudah
>menyumbang untuk biaya kamu sekolah, tahu! Jangan mimpi! Kuliah Cuma
>untuk orang kaya! Kamu mau bayar kuliah pakai apa? Mama sudah tidak
>punya uang lagi! "  suara Mama tidak kalah menggelegar.
>
>Sulit. Jika sudah bicara soal uang, aku mati kutu.Biaya kuliah tidak
>murah. Aku juga harus merantau ke kota besar. Butuh biaya perjalanan,
>kontrak rumah, plus biaya hidup. Runyam. Sungguh runyam. Lebih runyam
>lagi kalau aku harus membuat kue sampai bongkok. Aku tidak boleh
>menyerah! Pasti akan ada jalan keluar. Sabar saja!

Mei 1987
>Ketika ujian akhir dan ujian saringan masuk perguruan tinggi sudah
>dekat, aku memaksimalkan seluruh waktu yang tersiksa untuk berlatih
>soal-soal.
>
>Di kamar bekas Oma, yang akhirnya menjadi kamar pribadiku, aku
>tergeletak letih, setelah menggarap setengah buku latihan fisika. Sudah
>pukul satu dini hari. Mataku penat luar biasa. Terdorong isi kandung
>kemih yang penuh karena dua cangkir kopi, aku melangkah ke kamar kecil.
>Sejenak langkahku terhenti, berganti menjadi rasa ingin tahu, ketika
>sayup-sayup kudengar suara percakapan dari kamar Tante Lin.
>
>"Kau tidak perhatikan bahwa dia makin tertutup dan makin menjauh dari
>kita sejak peristiwa itu? "
>"Ah …  itu karena dia terlalu cengeng. Dia harus belajar menghadapi
>kerasnya hidup, harus belajar menerima kegagalan. "
>"Jangan terlalu keras padanya, Giok. Bukan salah Mei Cen dia lahir
>cacat, ‘kan? Dia pasti sangat menderita karena keadaannya. Mestinya,
kau
>bias bersikap lebih baik, karena dia menderita akibat kesalahanmu dulu.
>Kalau saja kau tidak gegabah minum segala macam ramuan
>obat dari sinse itu, pasti tidak akan begini kejadiannya! "
>
>"Aku tidak pernah tahu bakal begini kejadiannya! Sinse Wang paling
>terkenal di daerah ini, obat-obatnya selalu manjur. Tidak ada yang
>pernah menyangka anak itu lahir cacat, Lin! Sudahlah, jangan
>diingat-ingat lagi. Pedih rasanya. Setiap kali mengingatnya, aku
>teringat pada pria gila itu. Aku melakukannya karena terpaksa. Kau
tahu,
>’ kan? Aku terpaksa, aku takut, aku tidak punya pilihan lain. "
>
>Cepat-cepat kubekap mulutku sendiri, sebelum jeritannya keluar. Lututku
>lemas dan saling beradu, hampir tak kuat menyangga tubuh. Astaga, jadi
>ini rahasia besar yang selama ini sengaja disembunyikan mereka berdua?
>Mama berniat menggugurkan kandungan. Itu berarti, dia ingin membunuhku,
>melenyapkanku? Anaknya sendiri? Bagaimana mungkin dia tega berbuat
>begitu?
>
>Sampai kokok ayam terdengar nyaring di pagi hari, aku masih tergolek
>dengan mata sembap. Semalaman aku tidak bisa memejamkan mata. Benakku
>dipenuhi banyak pertanyaan, ketidakpuasan, ketidakpahaman. Cintakah
Mama
>padaku? Mengapa ia bisa setega itu? Mengapa tidak langsung dibunuhnya
>aku ketika lahir dulu? Bukankah ia terbebas dari masalah? Tapi, masalah
>apa yang membuat Mama bisa mengambil tindakan senekat itu? Apa
>hubungannya dengan seorang pria yang disebutnya kemarin?
>
>Keadaan rumah kebetulan sedang sepi ketika kutemui Mama di dapur pagi
>itu. Sambil mengiris sayuran, sesekali ia mengaduk se-panci besar bubur
>di atas kompor. Aku berdiri mematung, tak jauh dari tempatnya berdiri.
>Ia melihat padaku sekilas, tapi Mama tetap asyik dengan kegiatannya,
tak
>terusik oleh kehadiranku.
>
>"Kenapa selama ini Mama berbohong padaku? "
>"Bohong apa? "
>"Mama berbohong tentang cacatku! Mama pernah bilang, tangan dan kakiku
>tak berkembang karena aku anak perempuan yang pertumbuhannya tak
sepesat
>anak laki-laki. Lalu, Mama berganti cerita bahwa aku cacat karena waktu
>sehamil dulu Mama melanggar pantangan memotong kaki ayam. Tapi,
>kenyataannya, cacat ini terjadi karena disengaja. Betul begitu,’kan?"
>"Hei, kamu ngomong apa, sih? Pagi-pagi sudah meracau!"
>"Sekarang, Mama mau mengarang cerita baru lagi? Sudahlah, terus terang
>saja! Mama pernah ingin
>menggugurkanku, bukan? "
>
>Saat itulah Mama berbalik menghadapku. Kedua tangannya berkacak
>pinggang, lalu menudingku lurus-lurus.  " Hei, jangan asal kalau
>ngomong! Siapa yang bilang begitu? "
>
>"Tak perlu berkelit lagi, Ma. Mei Cen sudah dengar semua percakapan
Mama
>dan Tante Lin tadi malam. Sebenarnya, obat apa yang Mama makan sampai
>aku lahir begini? Obat yang sengaja Mama pesan pada Sinse Wang supaya
>janin di perut Mama tidak berkembang lagi? Obat yang sengaja Mama beli,
>Mama minum setiap hari, supaya janin itu mati seketika? Tapi,
sayangnya,
>janin itu
>tidak mati, bukan? Janin itu membesar, tidak mempan oleh obat. Janin
itu
>tetap hidup, dengan segala kekurangan. Mei Cen ingin tahu, bagaimana
>perasaan Mama sewaktu melihat bayi cacat itu untuk pertama kalinya? "
>Mukaku memerah ketika mulai mengucapkan dakwaan.
>
>Dengan raut wajah tegang Mama terpaku. Sesaat kupikir dia akan
>menamparku, seperti kebiasaannya kalau sedang marah. Dalam tempo
>singkat, Mama berhasil menguasai kekagetannya dan berucap dengan
nadanya
>yang khas, datar tanpa emosi.
>
>"Kau tidak akan bisa mengerti. "
>"Apa yang tidak aku mengerti? Bahwa Mama tidak menghendaki aku lahir?
>Bahwa Mama sengaja ingin
>membunuhku? "
>"Kamu tidak bisa mengerti! Mama sebenarnya sayang padamu. "
>"Sayang? Coba katakan sekali lagi. Sayangkah namanya jika menggugurkan
>anak sendiri? Sayangkah namanya jika membohongiku selama ini? Sayangkah
>namanya jika selama ini Mama bersikap tidak adil padaku? Aku mohon,
>jangan bohong lagi. Aku cuma ingin tahu, kenapa? Apa salahku?
>Apa salahku sampai Mama ingin membunuhku? "  aku *****ik.
>
>"Salahmu adalah karena kau lahir bukan di saat yang tepat! " bentak
Mama
>menggelegar, sambil memukul meja. "Papamu yang gila perempuan itu pergi
>begitu saja meninggalkan rumah ini, kawin lagi di kota lain. Dua bulan
>kemudian, Mama baru sadar bahwa Mama hamil. Dalam keadaan  bingung,
>datanglah kabar bahwa papamu meninggal karena kecelakaan. Mama makin
>bingung dan
>panik, karena ternyata ia tidak meninggalkan warisan apa-apa, selain
>rumah tua ini. Masih belum cukup, rupanya papamu sering main judi dan
>utangnya bertumpuk di mana-mana. Kalau kamu jadi Mama, apa yang akan
>kamu lakukan? Seorang janda dengan enam anak, ditambah satu
>calon anak di kandungan, tanpa penghasilan sama sekali. Mama tidak
punya
>pilihan lain, Mei Cen. Kalau kamu dibiarkan lahir, kamu hanya akan
>menderita dalam kemiskinan. "
>
>"Mama mengorbankanku? "  Aku tercekat dengan pahit.
>"Mama bingung, tidak tahu harus bagaimana lagi. Uang tidak punya,
>sementara semua orang di rumah ini perlu makan, belum lagi memikirkan
>soal utang. Mama tidak sanggup menambah beban lagi dengan mengurusi
>bayi. " Begitu tenangnya Mama bicara. Aku ternganga, nyaris
>tak percaya. Air bening dari pelupuk mataku berjatuhan satu-satu.
>
>"Aaa …  apakah Mama sedih melihat keadaanku waktuitu? "
>Sejenak Mama diam, lalu katanya,  " Ya, Mama sedih. Tapi, jangan
>dibicarakan lagi. Lupakan saja. Yang lalu biar saja berlalu. "
>
>Hah, enak saja Mama bilang begitu! Apa dia tidak sadar bahwa
>perbuatannya itu mengakibatkan tangan dan kakiku cacat? Hati dan jiwaku
>juga tergoncang? Apa dia lupa, gara-gara perbuatannya itu, sepanjang
>hidupku aku harus dijejali oleh segala macam hinaan dan olok-olok?
>
>Dengan lunglai dan tertunduk, aku kembali ke kamar,membenamkan diri
>sepanjang hari di sana. Tanpa perlu diberi tahu pun, aku sudah paham
>bahwa pembicaraan ini sudah usai. Jelas sekali bahwa Mama tidak mau
>mengakui kesalahannya, malah memasang tameng pembelaan diri
>dengan rupa-rupa alasan yang mengatasnamakan  ‘kemanusiaan ‘ . Sungguh
>indah!
>
>Baru aku sadar, dari dulu seolah ada tembok penghalang antara aku dan
>Mama. Ternyata, Mama menolak kehadiranku. Bagaimana mungkin ia bisa
>mencintaiku dengan sepenuh hati, bila ia tak pernah mengharapkan
>kelahiranku? Ini pukulan terhebat yang pernah kualami. Rasa kecewa
>karena tidak dicintai oleh teman dan saudara kandung masih bisa
kuatasi.
>Tapi, tidak dicintai oleh ibu sendiri? Tidak, aku tidak sanggup
>menanggungnya!
>
>Setelah konfrontasi yang mengejutkan itu berlalu,hubunganku dengan Mama
>makin berantakan. Setiap kali berpapasan, aku membuang muka. Makanan
>yang disediakannya pun tak pernah kusentuh lagi. Sebisa mungkin, aku
>menghabiskan waktu lebih banyak di sekolah.Tapi, apa daya,
konsentrasiku
>pecah.
>
>Pekerjaan rutinku kini hanyalah bergelung memeluk bantal dan menangisi
>nasib. Sejak kecil aku senantiasa diolok, diperlakukan seperti makhluk
>aneh, dijauhi seolah aku adalah penderita penyak it yang menyebarkan
>virus mematikan. Tak punya teman, tak punya kekasih.Aku tak perlu
>mengalami semua ini, kalau Mama tidak mencoba menggugurkan kandungannya
>dulu. Itu sebuah upaya pembunuhan. Itu suatu kesalahan, bukan?
>
>Berbagai pikiran buruk berebut datang menghampiri. Masa depan, apakah
>engkau masih menyisakan sedikit tempat bagiku? Kalaupun ada, yang
>seperti apa? Menjadi penghuni panti cacat seumur hidup, sendirian dan
>kesepian? Atau … menadahkan tangan, menjadi pengemis di pinggir
jalan?
>Apakah kelak ada pria yang mau menikahiku? Di manakah kesembuhan? Di
>manakah keadilan? Aku tak punya keberanian untuk menggapai impian. Aku
>sangat takut, benar-benar takut!

Juni 1987
>Ujian akhir sekolah kulalui dengan pikiran kacau-balau. Aku menjawab
>soal-soal sekenanya. Aku tak bernafsu untuk menjadi peringkat pertama.
>Bisa lulus saja sudah bagus. Aku bukan saja kehilangan cita-cita, tapi
>juga semangat dan daya juang.
>
>Mengetahui kecacatanku akibat ulah ibu kandung sendiri, aku jadi
>uring-uringan. Tiada hari tanpa muka masam dan keributan. Untuk hal-hal
>sepele, misalnya tidak menyikat lantai kamar mandi atau lupa mencuci
>piring kotor saja, kami bisa bertengkar hebat. Sejujurnya, aku tak kuat
>lagi dan ingin angkat kaki dari sini.
>
>"Kenapa sekarang sikapmu jadi berubah, Mei Cen? Dulu kamu tidak kurang
>ajar begini, "  tegur Tante Lin suatu kali.
>"Orang tua itu harus dihormati, bukan diajak berkelahi Kasihan mamamu.
>Ia kan seharian bekerja keras " lanjutnya lagi.
>"Aku bisa menghormati orang tua. Tapi, kalau orang tua itu pernah punya
>niat ingin membunuhku, maaf saja! Aku tidak bisa, "  dengusku, sambil
>memecahkan telur satu per satu ke dalam adonan.
>"Peristiwa itu sudah lama berlalu. Jangan diingat-ingat terus. "
>"Enak saja Tante bicara begitu! Ini masalah hak hidup seorang anak yang
>dirampas ibunya sendiri, masalah anak yang terlahir cacat karena
>kesalahan ibunya. Apakah sang ibu mengakui kesalahannya? Tidak. Apakah
>sang ibu menyesali perbuatannya? Tidak. Apakah sang ibu pernah meminta
>maaf kepada anaknya? Juga tidak. Lalu, kenapa Tante memaksaku
>menghormati orang tua
>yang demikian? Hanya karena dia sudah memberiku makan setiap hari? "Aku
>nyaris membanting baskom berisi adonan.
>"Mamamu sudah meregang nyawa waktu melahirkanmu karena umurnya yang
>sudah tidak muda. Dia mengalami perdarahan hebat dan harus dibawa ke
>rumah sakit. Untuk membayar biaya kelahiranmu, dia harus menjual
>perhiasannya. Paling tidak, hormatilah pengorbanannya itu!"  Tante Lin
>mencoba menasihati.
>
>"Oh …  jadi sekarang dia menuntut penghormatan? "
>"Bukan begitu, tapi … . "
>"Ah, aku jadi ingat satu hal. Tante Lin dan Oma pasti tahu ketika Mama
>berniat untuk menggugurkan kandungan, "  cetusku tiba-tib. Tante Lin
>menatapku lemah, tapi tidak menjawab.
>"Kenapa Tante dan Oma tidak mencegahnya? Atau, malah justru membantu
>dengan senang hati? "  tanyaku, sinis.
>"Mei Cen, kau tahu sendiri sifat mamamu. Sekali punya keinginan, tidak
>ada orang lain yang bisa melawannya. Sifatnya keras sekali. Kami tak
>bisa berbuat apa-apa, "  kata Tante Lin, berdalih.
>"Ceritakan Tante, seberapa keras keinginan Mama untuk melenyapkan aku?
>"Aku segera duduk di depannya. Tante Lin terperangah,menyadari
>kata-katanya yang salah, lalu meralatnya.
>"Jangan begitu, Tante. Ceritakan saja yang sebenarnya.
>Jangan khawatir, aku tak akan mati terkejut, " desakku lagi.  "Coba
>ceritakan, apa lagi yang
>dilakukannya? "
>
>Tante Lin terus menggelengkan kepala. Tapi, ketika matanya bertabrakan
>dengan mataku, ia akhirnya menyerah.  " Dia …  dia …  Pernah
>membanting-banting tubuhnya sendiri di lantai,
>memukuli perutnya dengan kayu…. , "  ujar Tante Lin terbata-bata.
>
>"Apa lagi? "  bisikku, mencoba menguatkan hati. "Ketika kandungannya
>berumur tiga bulan dan belum gugur juga, dia nekat pergi ke dukun.
>Segala macam alat digunakan untuk mengeluarkan tubuhmu, sampai …
dukun
>itu berdiri di perut mamamu, lalu menginjak injaknya .."  kata Tante
>Lin.
>
>"Sungguh mati, Mei Cen. Kami tak pernah menyangka kau akan terlahir
>cacat dan menanggung malu seumur hidup … . "
>"Apakah …  Mama menyesal ketika melihat keadaanku? "
>"Ya, dia kaget setengah mati. Dia bingung harus bagaimana. Dia sempat
>menawarkan kepada orang lain untuk memeliharamu. Tapi, mereka tidak mau
>menerima bayi cacat. Mamamu juga enggan merawat sendiri karena tidak
>siap menerima kehadiranmu. Tapi, belakangan ia mulai menyesal dan
>berniat untuk membesarkanmu. " Dengan ujung baju Tante Lin menyeka air
>matanya. Diwajahnya terbayang gurat-gurat keletihan dan sesal.
>
>"Jangan salahkan mamamu, Mei Cen. Kalau papamu tidak pergi
>meninggalkannya, ini tidak akan terjadi. Ia mengambil tindakan itu
>karena tidak bisa menerima pengkhianatan papamu. "
>
>Aku termangu, mengulang, dan mengulang kembali setiap kata yang barusan
>kudengar. Kemudian, tanpa berkata apa-apa lagi, aku beranjak pergi dan
>menyendiri di kamar. Membayangkan detail kisah itu tidak saja membuat
>jiwaku tersiksa, tapi aku juga merasa tak berharga sama sekali. Kini
aku
>tahu, kenapa Mama sulit menerima kehadiranku sebagai anak. Penghalang
>utamanya adalah kebenciannya yang begitu dalam pada Papa. Itulah yang
>ditumpahkannya padaku. Kenapa aku yang
>dijadikan alat pelampiasan sakit hatinya?
>
>Aku anak tak berguna. Aku anak yang tak berharga. Tak ada nilainya. Tak
>ada artinya. Selama beberapa hari, hanya kalimat-kalimat itu yang
>melekat kuat di otakku. Tingkahku makin seperti orang linglung, tak
>punya sinar kehidupan. Tiba-tiba, jalan keluar mulai terlihat, menggoda
>hatiku untuk melakukannya. Lama-kelamaan, pikiran itu makin mendekati
>kenyataan ketika kemudian aku menemukan semprotan obat nyamuk dipojok
>kamar.
>
>Faktanya, Mama tak pernah menginginkan aku hidup. Baik, aku akan
>membantunya sesegera mungkin mewujudkan keinginan itu. Kalau aku sudah
>tak ada, kebencian Mama pada Papa mungkin bisa lenyap. Tanggungan hidup
>Mama juga akan berkurang satu karena dia tak perlu repot-repot lagi
>memikirkan biaya hidupku. Kalau aku mati, aku juga tak perlu lagi
>berkubang dalam pusaran
>dendam pada ibu kandungku sendiri. Aku mencintainya,aku tak ingin
>membencinya … .
>
>Dengan tenang, aku membuka botolnya dan menuangkan cairan berbau itu ke
>dalam kerongkonganku. Rasa panas yang membakar membuatku limbung. Aku
>berusaha menarik apa saja yang bisa kuraih. Beberapa benda beterbangan
>jatuh. Suaranya berisik. Pandangan mataku mengabur, lama-kelamaan kian
>gelap. Sebelum badanku terempas,sempat kuingat ada tangan yang merogoh
>mulutku,sementara tangan yang lain menekan tengkukku dengan kuatnya.
>Berbarengan dengan itu, rasa mual yang amat sangat mendorong seluruh
isi
>perutku keluar. Aku terkapar.
>
>Beberapa saat lamanya kesadaran menghilang dari benakku. Ketika membuka
>mata, aku mendapati diriku tengah terbaring ditutupi selimut sampai
>leher. Setelah pandangan berkunang-kunang yang mengganggu itu hilang,
>aku menyeret kaki dan memaksanya keluar dari kamar. Jam kuno di dekat
>televisi berdentang,menandakan sudah pukul satu dini hari.
>
>"Kenapa aku tak dibiarkan mati saja tadi? "  gumamku lirih, dengan
tubuh
>lemas, bersandar di tembok dapur. Mama tampak tak terganggu oleh
>pertanyaan itu. Buktinya, ia masih meneruskan kegiatannya menjerang air
>untuk menyeduh kopi.
>
>"Kenapa aku tak dibiarkan mati saja tadi? Biar dendam Mama terbalas.
>Biar hati Mama puas. Biar hidup Mama tak lagi susah! Itu kan yang Mama
>inginkan selama ini?
>Kematianku?"  cecarku, sambil bergerak maju menghampiri.
>
>Tiba-tiba Mama membanting cangkir yang sedang dipegangnya ke lantai.
>Cipratan kopi panas mengenai kakiku yang telanjang.
>
>"Ampun! Soal itu lagi! Itu lagi! Buat apa, sih, diungkit-ungkit terus?
>Tidak bisakah kita hidup tanpa saling menyalahkan? " Tampak sekali Mama
>berusaha menekan amarah. Mukanya tegang dan bibirnya gemetar.
>
>"Pasti Mama senang sekali kalau aku mati tadi, " ujarku, sinis.
>"Jangan kurang ajar, Mei Cen! "
>"Kenapa, sih, Mama harus malu mengakuinya? Setelah usaha yang Mama dulu
>lakukan gagal, mestinya Mama berterima kasih karena aku akan mewujudkan
>keinginan itu. Tidak perlu repot-repot menolongku. Mama tinggal bilang
>saja, mau pakai cara apa? Terjun dari gedung tinggi, gantung diri, atau
>potong urat nadi? Dengan senang hati aku akan melakukannya untuk Mama.
"
>
>Plak! Plak! Dua tamparan membungkam ocehanku. Mama mengacungkan
>telunjuknya di depan hidungku.
>
>"Stop! Jangan bicara begitu lagi! Apa, sih, yang ada di kepalamu?
Setiap
>hari kita bertengkar tentang hal yang itu-itu juga! Kenapa Mama begini,
>kenapa Mama begitu. Berkali-kali dijelaskan tentang situasi yang
>menjepit waktu itu, kamu masih tidak bisa mengerti juga. Mama tidak
>punya pilihan lain waktu itu, Mei Cen. Mengertilah sedikit! Pikirmu,
>cuma kamu yang susah, cuma kamu yang dapat masalah? Kamu tidak pikirkan
>bagaimana keadaan Mama? Seorang wanita setengah tua, yang ditinggal
mati
>suaminya tanpa warisan? Sendirian bekerja untuk menghidupi seisi rumah
>dengan penghasilan pas-pasan. Apakah itu beban yang ringan? "
>
>"Mama tidak pernah mau mengakui perbuatan itu sebagai kesalahan. Itu
>masalahnya! "  jeritku, sakit hati. "Kamu mau menyalahkan Mama karena
>terlahir cacat? Tidak ada manusia yang bisa menentang kehendak takdir.
>Coba kalau kamu tetap tinggal di rumah, tidak ada yang menghinamu. Kamu
>juga menyalahkan Mama karena tidak mampu membiayaimu berobat. Lihat
>sendiri keadaan kita,
>Mei Cen. Untuk makan saja kita harus berhemat, belum lagi uang
sekolahmu
>dan biaya yang lain. Sekarang kamu bicara dengan lagak orang paling
>pintar sedunia! Main tuding. Ini salah, itu salah! Hei, kamu sadar
>tidak? Semua yang kamu pakai dan makan itu hasil jerih payah Mama.
Tapi,
>kamu sama sekali tidak tahu terima kasih, tidak tahu balas budi! Anak
>tidak tahu diuntung! Benar-benar anak pembawa sial! "
>
>Darahku langsung menggelegak, menyembur memanasi kepala. Anak pembawa
>sial. Itulah ungkapan yang paling sering aku terima selama tinggal di
>rumah ini.
>
>"Mama tidak perlu khawatir soal uang lagi! Mulai sekarang, tanggungan
>Mama berkurang satu. Aku akan mengganti setiap rupiah yang Mama pakai
>untuk membiayai hidupku selama ini. Setiap rupiah! Aku bersumpah, tidak
>akan pernah menginjak rumah ini lagi. Aku tidak akan pernah mengganggu
>hidup keluarga ini lagi karena aku tidak pernah diharapkan ada di sini!
>Akan kubuktikan, aku bisa hidup tanpa kalian! " jeritku membabi-buta,
>menerjang kamar dan langsung
>mengambil tas di atas lemari.
>
>"Silakan! Silakan kalau kamu mau pergi! Hei, sekali kamu minggat dari
>rumah ini, selamanya pintu ini tertutup buatmu! Kamu dengar itu? Dasar
>anak sinting! Sejak di kandungan saja sudah bikin pusing. Sudah besar
>malah tambah bikin masalah! Anak kurang ajar! Anak durhaka kamu! Makin
>cepat kamu keluar dari rumah ini, makin baik! "  teriak Mama, tak kalah
>seram, kali
>ini dengan melempar beberapa piring ke arah pintu kamarku.

Sambil terisak-isak, aku memasukkan beberapa buku pelajaran, ijazah dan
>surat-surat penting, tiga helai baju yang kubeli dengan uangku sendiri,
>dan selimut tua milik Oma. Aku harus keluar dari rumah ini. Harus! Tak
>ada lagi yang bisa menahanku lebih lama di sini. Aku cuma seorang
>manusia cacat tak berguna. Benalu yang membebani. Kenapa Yang Kuasa
>tidak mencabut nyawaku saja? Tak ada arti lagi hidupku kini.
>
>Selama beberapa saat, aku kembali menimbang-nimbang keputusanku untuk
>pergi. Masalahnya, aku tidak punya tujuan. Kenalan tak ada, saudara tak
>punya. Dengan menimang uang dua ratus ribu rupiah di tangan, aku
>membulatkan tekad untuk keluar dari rumah ini.Menjelang matahari
terbit,
>dengan lunglai aku menyampirkan tas di bahu dan beranjak membuka pintu
>depan. Derit suaranya yang khas membuatku terkesima. Mungkin, ini  saat
>terakhir aku bersentuhan dengan pintu kayu yang besar ini. Tanpa sadar
>kuusap cat cokelatnya yang sudah terkelupas. Perlahan aku
>berjalan menjauhi rumah, tempat aku dibesarkan, meninggalkannya setapak
>demi setapak. Kedua tanganku menggenggam erat secarik kertas
bertuliskan
>sebuah alamat.
>
>
>Yogyakarta, Juni 1987  -  1993
>Mulutnya menganga. Kacamatanya diturunkan, lalu dilepas. Ia menatap,
>menyelidik. Beberapa detik kemudian, ia membuka gerendel pintu.
>
>"Mei Cen? "  tanyanya, tak percaya. Aku mengangguk kuat-kuat sambil
>menggigil kedinginan. Hujan lebat membuat pakaianku melekat di sekujur
>kulit. Perutku terus berbunyi, lantaran belum diisi sejak kemarin.
>
>"Pasti ada sesuatu yang sangat serius sehingga kamu menemui Ibu di
sini,
>" katanya, heran dan curiga. Ia menggiringku masuk ke rumahnya yang
>kecil dan menyuruhku membersihkan diri. Ibu Minarni berusaha menahan
>diri untuk tidak bertanya macam-macam. Ia adalah guru SMA-ku yang
paling
>kusayangi, karena selalu memberiku semangat. Sayangnya, ia harus pindah
>tugas ke Yogyakarta.
>
>Setelah mandi dan menyantap sepiring nasi goreng teri,aku duduk di
depan
>Ibu Minarni yang menunggu ceritaku. Dengan getir aku mengulang kisah
>hidupku, sejak lahir hingga detik-detik terakhir pertengkaranku dengan
>Mama. Kedua mata Ibu Minarni tampak berkaca-kaca.
>
>"Saya tidak punya siapa-siapa lagi, Bu. Izinkan saya tinggal di sini
>sampai mendapat pekerjaan. Saya janji, tidak akan membuat Ibu susah.
>Saya akan mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Menyapu, mengepel,
>cuci baju, semuanya, apa saja, asalkan diizinkan menumpang
>di sini, Bu. Tidur di lantai WC pun tak apa-apa. Ibu tak perlu memberi
>saya makan. Ibu boleh memperlakukan saya sebagai pembantu, "  tuturku.
>Setelah beberapa menit berlalu tanpa ada reaksi apa-apa, aku mendongak.
>
>Ibu Minarni berdehem, lalu menggenggam tanganku.  "Ibu tahu perasaanmu,
>Mei Cen. Tapi, melarikan diri bukan jalan keluar yang baik. Keluargamu
>pasti sangat khawatir. Apalagi, mamamu… . "
>
>"Mereka tidak akan pernah merasa kehilangan. Mama tidak melarangku,
>bahkan mengusirku. "
>"Itu karena beliau sedang emosi. Orang marah selalu melontarkan
>kata-kata yang bukan maksudnya. " Aku bangkit dan meraih tasku. Dari
>kata-kata Ibu Minarni, aku tahu apa yang sebenarnya ingin dia
sampaikan.
>
>"Saya mengerti jika Ibu keberatan dengan permintaanku,"  kataku.
>"Kamu mau ke mana? "  Ibu Minarni ikut berdiri.
>"Pergi. "
>"Lho? Bukankah kamu ingin menemui Ibu? "
>"Ibu tidak bisa menerima saya tinggal di sini,  ‘ kan? Ibu tidak
percaya
>cerita saya, ‘kan?"
>sergahku, sengit.
>
>"Jangan buruk sangka, Mei Cen. Ibu hanya merasa tidak enak dengan
>keluargamu, jangan-jangan mereka menganggap Ibu yang memengaruhimu agar
>pergi dari rumah. Seburuk apa pun perlakuan mamamu, ia tetap orang
>tuamu."
>
>"Percayalah, Bu. Mama tidak akan pernah merasa kehilangan. Ia tidak
>mungkin mencari, apalagi lapor kepada polisi. Baginya, kehilangan
seekor
>ayam lebih menyedihkan daripada kehilangan anak cacat seperti saya. "
>
>"Hus, jangan bicara begitu! Tuhan menciptakan manusia dengan segala
>kebaikan, menurut rupa dan teladan-Nya. Dia tidak pernah menciptakan
>sesuatu yang tidak berguna. Baik, kau boleh tinggal di sini. Ibu akan
>menganggapmu sebagai anak. Ingat itu! Tapi, asal kamu tahu, Ibu bukan
>orang kaya. Artinya, kamu harus menerima ikan asin dan tempe sebagai
>makanan sehari-hari. Setuju? "
>"Ibu, terima kasih banyak! Saya berjanji tidak akan menyusahkan Ibu.
>Tidak akan pernah!" tekadku.
>"Satu lagi, suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, Ibu akan
>tetap memberi tahu keluargamu, " katanya, tegas.
>
>Sejak itu setiap hari aku bangun pukul 4 pagi dan mulai mengerjakan
>pekerjaan rumah tangga. Ketika Ibu Minarni bangun, rumah sudah rapi dan
>sarapan sudah terhidang. Saat ia mengajar, aku membuat kue, lalu
>menjajakannya ke beberapa warung dan toko. Dari 30 tempat yang
>kudatangi, hanya satu yang bersedia menampung kue-kue buatanku.
>
>Dalam beberapa bulan, aku berhasil menjaring dua toko lagi. Uangnya aku
>gunakan untuk membayar rekening listrik, air, dan telepon. Hingga tepat
>setahun kemudian, Ibu Minarni mengajakku berbicara dengan raut muka
>serius. Aduh, inilah saat yang paling kutakuti! Ibu Minarni pasti
>mengusirku! Mungkin, ia akan mengontrakkan rumah ini kepada orang lain
>atau mungkin membuka kos-kosan.
>
>"Mei Cen, Ibu lihat kepercayaan dirimu sudah pulih kembali. Itu bagus.
>Tapi, Ibu ingin agar kamu bisa lebih mandiri. Itu sebabnya, Ibu
>ingin..," Ibu Minarni sengaja memperlambat nada bicaranya. Nah, benar
>kan dugaanku?
>
>"Bu, saya berterima kasih untuk semua kebaikan Ibu.Saya minta maaf
>karena banyak merepotkan Ibu. Kalau saya harus pergi, saya ingin …, "
>kataku terbata-bata, menahan isak.
>"Kamu ngomong apa, sih? Ibu ingin kamu kuliah … . "
>"Kuliah? Di sini? Tapi … . "
>"Ibu ingin membiayaimu. Kau bagian dari hidup Ibu. Sayang jika masa
>depanmu lewat begitu saja. Otakmu cemerlang. Izinkan Ibu membantumu, "
>tutur Ibu Minarni, lembut. Aku terperangah, antara terkejut dan senang.
>
>"Jangan pikirkan soal balas budi. Tugasmu cuma satu,belajar
>sungguh-sungguh supaya bisa lulus dengan nilai baik. Supaya kamu bias
>dating menemui mamamu dan mempersembahkan ijazah di pangkuannya,
sebagai
>sebuah kebanggaan, "  katanya, sambil mengusap rambutku.
>
>Kuliah? Aku tidak sedang bermimpi bertemu malaikat kebajikan,  ‘ kan?
>Sesaat aku ragu, tapi senyuman Ibu Minarni menggambarkan ketulusannya.
>
>Tahun pertama kuliah terasa sangat menegangkan. Perasaan minder yang
>hebat kembali timbul dan
>membuatku sulit beradaptasi dengan dunia kampus. Ke mana saja aku
>melangkah, rasanya setiap mata mengikuti. Hanya segelintir teman yang
>benar-benar bisa menerima keadaanku.
>
>Aku sangat menyadari, betapa beruntungnya aku bisa bertemu sosok
>penolong seperti Ibu Minarni. Dia begitu rajin memperkenalkanku dengan
>Tuhan, yang tidak pernah kukenal selama ini. Dia selalu siap mendengar
>keluh kesahku dan giat menyemangatiku. Akan kubuktikan pada Mama bahwa
>aku bukan orang cacat yang bisa dianggap remeh.
>
>Di tahun terakhir kuliah, saat aku tak lagi terlalu banyak
dikejar-kejar
>berbagai tugas, Ibu Minarni menyuruhku mengikuti bermacam kursus. Mulai
>dari komputer, bahasa Inggris, sampai kursus keterampilan. Bersama dua
>teman Yang punya minat sama, kami belajar membuat lilin hias dalam
>bentuk dan warna menarik, lalu menjualnya saat bazar kampus. Di luar
>dugaan, semuanya laris terjual.
>
>Tepat lima tahun kemudian, aku berjalan bangga di antara ratusan orang
>yang diwisuda. Terpincang-pincang aku menerima ijazah dan ucapan
selamat
>dari para dosen.
>
>"Ibu bangga padamu, Mei Cen! Hebat, kamu hebat! "  Ibu Minarni
memelukku
>erat-erat, sambil tersenyum puas.
>
>"Terima kasih banyak, Bu. Entah dengan cara apa kebaikan Ibu bisa saya
>balas, "  kataku, penuh haru. Ibu Minarni mengibaskan tangan, lalu
>mendadak ia seperti teringat sesuatu.
>
>"Kamu harus segera memberi tahu keluargamu di Siantan.Harus! Tidak
boleh
>tidak! "  tegas Ibu Minarni. Aku seperti terkena tembakan tepat di
>jantung.
>"Ah, tidak, Bu! Nanti saja! Saya belum siap bertemu mereka. "
>
>"Kau tidak akan pernah siap selama hatimu terus dipelihara oleh dendam
>dan kebencian, Mei Cen.
>Belajarlah untuk bisa memaafkan mamamu. Cuma itu satu-satunya jalan. "
>
>Aku memaksakan sebentuk senyum kaku. Ah …  sayang, Ibu berhati
>malaikat ini bukan orang tua kandungku.Seandainya Mama bisa sehangat
dan
>penuh kasih seperti dia. Seandainya saja aku punya kebebasan untuk
>memilih siapa yang melahirkanku ke dunia.
>
>"Tidak, Bu. Saya tak ingin kembali ke sana! " tegasku. Kali ini dengan
>nada dingin yang tak bisa kututup-tutupi. Tak sadar, rahangku mengeras
>karena desakan kemarahan yang tiba-tiba muncul ke permukaan. Memaafkan
>Mama? Mungkin, itu satu-satunya hal yang akan kulakukan jika langit
>runtuh.
>
>Jakarta,September 2003
>Tampaknya, penduduk kota ini selalu kesetanan setiap hari Senin.
>Buktinya, pukul tujuh pagi, jalan-jalan sudah dipadati kendaraan.
>Ditambah genangan air di sana-sini, sisa hujan semalam. Jika tidak
>telanjur janji dengan Pak Bramanto untuk menyelesaikan proposal proyek,
>aku tidak rela harus terjebak macet seperti ini.
>
>Sudah hampir dua tahun aku berkantor di Jakarta. Pertemuanku dengan
Otto
>Schmidt, orang Jerman yang tertarik pada pernak-pernik buatanku,
>membuka,sedikit pintu kesuksesan untukku. Awalnya, ia mengunjungi stan
>kami di acara pameran kecil di Yogya. Perbincangan kami lalu berlanjut
>ke tahap Penjajakan kerja sama dalam bidang art & craft. Ia menyediakan
>sebagian besar modal dan bertanggung jawab atas pemasaran. Aku dan dua
>temanku menangani manajemen dan produksi.
>Malah, kami juga mengembangkan sayap ke bidang dekorasi rumah dan
>gedung.
>
>Sampai di kantor, Mona sudah menghadangku. Tangannya menggenggam buku
>agenda dan beberapa surat.  " Maaf, Bu, Pak Bramanto menelepon. Ia
minta
>rapat ditunda hingga pukul dua siang nanti. Tadi malam istrinya baru
>melahirkan, "katanya, cepat.
>
>"Oh, ya? "  ujarku, mengembuskan napas kesal.
>"Baru saja Ibu Minarni menelepon. Katanya, sulit sekali menghubungi
Ibu.
>"
>"Ya, ponsel memang aku matikan. Ada lagi? "
>"Pukul sebelas nanti akan ada tamu dari Departemen Perindustrian. Pukul
>empat sore Ibu diundang ke peresmian mal baru, "  jelas Mona. Setelah
>menyerahkan beberapa berkas laporan, dia undur diri. Aku menyampirkan
>blazer hijau lumut pada sandaran kursi putar, lalu menekan beberapa
>angka di mesin telepon.
>
>"Ibu, ada apa? "
>"Mei Cen, selamat ulang tahun, Nak! Semoga Tuhan memberkatimu dengan
>rahmat dan kebijakan, "  sapa Ibu Minarni di ujung sana.  " Hadiahnya
>ada di mejamu. "
>
>Sehelai amplop putih berlogo sebuah maskapai penerbangan menarik
>perhatianku. Isinya, selembar
>tiket pesawat.
>
>"Pontianak? "
>"Kau tidak ingin menengok keadaan Mama? Kau tidak ingin menjemputnya
>supaya bisa melihat kehidupanmu sekarang? "
>
>Astaga, lagi-lagi topik yang sangat tidak kusukai itu muncul.
>"Tidak sekarang, Bu, "  jawabku pendek, sambil menaruh amplop itu di
>dalam laci dan menguncinya.
>"Kenapa kau senang mengulur waktu, Mei Cen? Tidak baik memelihara
>dendam. Kamu sudah dewasa, sudah tahu yang benar dan yang salah. Jangan
>berkubang  di dalam masa lalumu yang pahit sampai mati. Seberapa besar,
>sih, kerugian yang akan kau dapatkan kalau memberi maaf pada ibu
>kandungmu sendiri? "  Suara Ibu Minarni meninggi.
>
>"Bu, kita tidak perlu bertengkar gara-gara ini,kan? Saya baru saja
>terjebak macet selama tiga jam dan belum sempat memeriksa laporan kerja
>karyawan. Masa, sih, Ibu belum bosan juga membahas masalah ini? "
>"Kau masih menyalahkan mamamu karena berpisah dari Erwan? "
>"Tidak ada sangkut pautnya. Ada atau tidak ada Erwan, jawabanku tetap
>sama. Aku tidak akan pulang menemui mereka. Tidak sekarang. Tidak juga
>nanti. Titik. "
>"Mei Cen, sadarlah, kau sedang membangun rumah di atas pasir, " keluh
>Ibu Minarni. Kau sedang mengerjakan hal yang sia-sia. Berdiri di tempat
>pijakan yang sama sekali tidak kokoh, malah makin menenggelamkan
kakimu.
>Jangan beri tempat untuk amarah. Ingat itu baik-baik!
>"Ibu Minarni memutuskan hubungan. Aku termangu, mencerna setiap
>ucapannya.
>
>Erwan. Kenapa nama itu harus terdengar lagi? Pria yang katanya
>mencintaiku apa adanya itu lebih memilih ibunya daripada bersanding
>denganku. Otto Schmidt memperkenalkan Erwan Namiel padaku sebagai
>pengusaha Property yang masih lajang di usia 38. Setahun lamanya
>kami berteman, hingga suatu malam ia mengutarakan niatnya untuk
>menikahiku. Tentu saja, aku bersedia, karena ia bersumpah akan
>benar-benar menerima semua kekurangan yang aku miliki.
>
>"Tidak malu punya istri cacat? "  tanyaku,sungguh-sungguh.
>"Ah, yang penting kan kecantikan hati! "  tegasnya. Ia bilang, kekuatan
>cinta kami akan sanggup mengalahkan semua perbedaan yang ada.
>
>Saat Tahun Baru, Erwan mengajakku makan malam di rumahnya. Ketika
>melihat pandangan mata ibunya yang terkaget-kaget, aku tahu akan
>menghadapi masalah serius. Suasana makan malam jadi berantakan. Nyonya
>rumah bergegas pamit ke kamar dengan alasan kurang enak badan.
>
>"Kau tidak pernah menceritakan keadaanku pada orang tuamu? " tanyaku,
>sambil melempar serbet.
>"Sudah, tapi tidak detail, "  jawab Erwan, salah tingkah.  " Tenanglah,
>aku, toh, sudah memilihmu. Aku akan membicarakannya dengan Mama, "
>janji Erwan. Aku tidak menemukan kejujuran di matanya.
>
>Esok harinya, ketika ia menjumpaiku dengan wajah kusut masai, aku tahu
>bahwa hubungan kami tinggal tumpukan abu.  " Maafkan aku. "  Cuma itu.
>
>Untuk kesekian kalinya, aku dinobatkan sebagai pihak yang kalah. Pihak
>yang tidak berhak menerima sebongkah cinta. Satu-satunya orang yang
>patut disalahkan adalah Mama. Kenapa dia sampai hati merenggut
>kebahagiaanku? Kenapa dia begitu kejam merampas hakku untuk hidup
>seperti perempuan normal lainnya? Makin aku memikirkan jawabannya, aku
>jadi makin gila. Dan, makin membenci Mama.
>
>Suara Mona di saluran interkom mengejutkanku.  " Maaf, Bu, ada seorang
>ibu mau bertemu dengan Ibu. Namanya Lin. "
>
>"Bilang saja, aku sedang meeting dan tak bisa diganggu. "
>Kejutan. Dari mana Tante Lin tahu alamatku? Pasti dari Ibu Minarni.
Hmm,
>mau apa dia datang ke sini menemuiku? Sendiri atau bersama …  ah,
masa
>bodoh! Aku sudah bersumpah, tak akan pernah mau berurusan dengan mereka
>lagi. Aku tak mau menemuinya! Sore harinya, ketika aku sedang
>bersiap-siap menghadiri peresmian gerai baru kami di sebuah mal, Mona
>menyampaikan, wanita yang tadi mencariku masih setia menunggu di ruang
>tamu.
>
>"Bilang saja, aku sudah pulang, Mona! "
>"Dia bilang akan menunggu Ibu. Bila perlu dia akan menginap di sini. "
>"Ya, terserah! Panggil satpam kalau dia macam-macam! "  bentakku
>jengkel. Apa, sih, maunya Tante Lin?
>
>Selama tiga hari berturut-turut, Mona melaporkan, wanita itu tetap
tidak
>beranjak dari kursinya. Ia tetap ingin bertemu denganku. Penting
sekali,
>katanya. Di hari keempat, aku terpaksa mengalah, membuka pintu ruang
>kerjaku dan mengundangnya masuk. Tante Lin berjalan pelan, sambil
>mengedarkan pandangan. Kami duduk berhadapan seperti orang asing,
saling
>menunggu lawan bicaranya buka mulut terlebih dulu. Akhirnya, aku tak
>bisa menahan diri lebih lama.
>
>"Ada apa, Tante? Uang yang aku kirim kurang? Kurang berapa? "
>
>Tante Lin menatapku gusar.  " Bukan masalah uang. Tapi, masalah
>kesombonganmu! Kamu sengaja tidak mau menemui Tante, sengaja membiarkan
>Tante menunggu berhari-hari. Kamu benar-benar keterlaluan! "
>
>"Salah siapa? Aku tidak pernah mengundang Tante Lin. Jadi, kalau aku
>tidak mau menemui tamu yang tidak aku kehendaki, wajar,  ‘ kan? "
>cetusku, sambil menyipitkan mata.
>
>"Sombong! Kamu memang sudah berhasil jadi orang kaya,Mei Cen. Tapi,
>jangan kurang ajar pada keluarga sendiri. Jangan lupa diri. Jangan
>mentang-mentang …. . "
>
>"Kirana. Namaku sekarang Kirana, "  ujarku, meralat.
>"Sudahlah, Tante, kurang berapa?" potongku jemu, lalu menarik laci meja
>di sebelah
>kananku.Aku mengeluarkan segepok uang, lalu menaruhnya di meja.  " Ini,
>lima juta."
>
>"Kamu betul-betul keterlaluan! "  Tante Lin mengacungkan telunjuknya di
>depan hidungku.  " Tante datang cuma untuk menyampaikan kabar bahwa
>mamamu sedang sakit. Stroke menghantam tangan dan kakinya sampai
lumpuh.
>Dia sangat mengharapkanmu pulang. "
>
>"Untuk apa? Aku, toh, bukan anaknya! "
>"Jangan diingat lagi pertengkaran yang dulu, Mei Cen. Sudah kewajibanmu
>sebagai anak untuk merawat orang tuanya. Pulanglah, walau hanya
>sebentar."
>
>Aku menggeleng kuat-kuat, mengusir sakit hati yang merayap.
>
>"Aku sudah cukup melakukan kewajibanku. Setiap bulan aku mengirimkan
>uang sebagai pengganti semua biaya yang sudah dia keluarkan untukku.
Itu
>kan yang dia minta? Nah, aku sudah melunasinya. Berarti, aku tidak
punya
>urusan apa-apa lagi. Silakan ambil uang itu, Tante! Aku masih banyak
>pekerjaan, "ucapku, sambil melangkah ke arah pintu.
>
>"Kami tidak butuh uangmu, Ibu Kirana yang terhormat! Kau pikir, dengan
>mengganti nama dan identitas, kamu bisa melupakan asal-usulmu begitu
>saja? Kau ingin melenyapkan masa lalu? Tidak mau berhubungan dengan
kami
>lagi? Sungguh besar dendammu pada kami! "
>
>Bagai disiram bensin berliter-liter, amarahku tersulut.  " Ya, aku
>memang dendam! Dendam seorang anak yang hidupnya terlunta-lunta oleh
ibu
>sendiri. Lihat tanganku! Lihat kakiku! Siapa penyebab ini semua? Apakah
>Mama pernah mengakui kesalahannya, satu kali saja? Apakah pernah dia
>minta maaf padaku atas percobaan pembunuhan yang pernah dia lakukan
>dulu? Apakah dia peduli pada masa depanku dan kebahagiaanku yang
>terampas? "  teriakku, kalap. Tante Lin terenyak mundur.
>
>Sambil berlinang air mata, aku meratap lirih,  " Siapa yang pernah
>peduli pada perasaanku? Selalu dianggap tak ada. Bahkan, kalian sepakat
>mengecapku sebagai anak pembawa sial yang harus diusir keluar dari
>rumah. Tante tahu, bagaimana perasaanku selama belasan tahun? Sakit
>sekali. Padahal, aku hanya minta satu hal. Aku hanya ingin Mama
>menyampaikan penyesalan. Cuma itu! Terlalu kurang ajarkah permintaan
>itu? "
>
>"Mamamu menyesali kejadian itu, Mei Cen. Dia ingin … . "
>"Maaf, banyak pekerjaan yang menunggu. "  Cepat-cepat aku mengeringkan
>mata, lalu membuka pintu lebar-lebar. Sesaat Tante Lin ternganga, kaget
>melihat sikapku. Perlahan ia meraih tasnya, mengambil sebuah bungkusan
>tipis dan menyerahkannya padaku.
>
>"Hadiah ulang tahun dari Mama. "
>Aku menatap bungkusan itu dengan sinis.  " Tumben, dia ingat ulang
>tahunku. Bilang padanya, terima kasih untuk kadonya yang sangat
>berharga. Tapi sayang, aku tak mau menerimanya. "
>
>"Mei Cen! "
>"Maaf, Tante. Selamat siang! "
>
>Tante Lin memandangku dengan marah. Setelah puas beradu mata, ia
>berbalik pergi. Saat bayangannya menghilang, aku tertunduk lesu.
>Rasanya, sukmaku mati rasa.
>
>Kenapa setiap kali aku ingin melupakan semuanya,selalu ada yang kembali
>mengungkit luka itu? Tak bisakah aku kini membangun kembali puing-puing
>keruntuhan hidup, tanpa harus direcoki
>percikan-percikan api masa silam?
>
>
>Siantan-Pontianak 21 Juli 2004
>Derit kereta dorong mengusik telingaku. Tiga perawat lewat di depanku
>mendorong seorang kakek yang terbaring di ranjang beroda. Aku
>mengerjapkan mata, menyusun kembali ingatanku. Rupanya, aku ketiduran
>dikursi. Semalaman aku bolak-balik mengintip keadaan Mama dari depan
>pintu kamarnya. Aku tak punya keberanian untuk menemuinya.
>
>Ketika mengintip keadaan Mama kemarin, aku sedikit menyesal karena
tidak
>langsung menanggapi telepon dari Tante Lin, yang sudah menghubungiku
>selama sebulan terakhir. Ketika kemarin ia meneleponku lagi, aku tahu,
>mungkin tak banyak lagi waktu tersisa.
>
>Aku beranjak menuju ruang perawat. Informasi yang kudapat sungguh
>mengejutkan. Keluarga sudah membawa Mama pulang satu jam yang lalu.
>
>"Memangnya, sudah sembuh? "  tanyaku, penasaran.
>"Keluarganya ingin merawat di rumah saja, "  kata seorang perawat.
>"Kenapa? "  tanyaku lagi.
>"Dokter bilang sudah tidak ada harapan. Tinggal menunggu waktu saja, "
>ucap perawat itu.
>
>Jawaban itu membuatku tersentak. Tak ada harapan. Menunggu waktu. Maut
>sudah di ambang pintu. Mati.
>
>Akhirnya, langkah kaki membawaku kembali ke pintu kayu yang sudah kusam
>dan terkelupas itu. Mataku berkaca-kaca. Inilah rumah yang pernah
>kutinggali dulu, saksi bisu riwayatku. Aku mendorong pintu perlahan.
>Sepi, tak ada siapa-siapa. Aku melambatkan langkah, menyusuri jejak
masa
>kecilku. Beberapa pojok ruangan tampak kotor dan tak terawat.
>
>Rupanya, seluruh anggota keluarga sedang berkumpul. Mata mereka
>terbelalak ketika melihatku. Tanpa berkata apa-apa, aku mendekat ke
>pembaringan. Bau kotoran manusia menyergap penciumanku, berbarengan
>dengan bau apak. Entah siapa yang mengomando, satu per satu mereka
>keluar.
>
>Dengan pedih aku meneliti sekujur tubuhnya.Dari balik selimut tipis,
aku
>melihat tonjolan tulangnya. Mukanya tirus. Kedua matanya terpejam.
>Tangannya terlipat di dada. Lima belas menit aku hanya memandangi wajah
>Mama.

Sambil mengumpulkan keberanian, aku mendekat ke telinganya dan berbisik
>menyapanya. Sungguh, saat ini tak tersisa benci dan dendam dalam
diriku.
>Aku sudah melupakannya. Aku hanya ingin berkata-kata dengan Mama,
>menghiburnya, menjaganya.
>
>"Mama, bisa dengar suaraku? Aku ingin minta maaf. Semestinya, aku bisa
>datang lebih cepat. Aku takut kita akan bertengkar lagi jika bertemu.
>Aku takut Mama akan mengusirku lagi."  Kuusap tangan Mama yang keriput.
>
>Kubelai wajahnya. Kusisir rambutnya dengan jari-jari tangan. Hal yang
>tidak mungkin aku lakukan dulu. Bermanja-manja dan berpelukan dengan
>Mama hanyalah angan-angan. Sekarang, aku bisa bebas menyentuhnya.Tapi,
>ironisnya, dia tak sadarkan diri.
>
>"Mama, banyak hal yang ingin kuceritakan. Mama tahu,aku tidak lagi
>menjual kue seperti dulu. Aku sudah tamat kuliah. Aku ingin minta maaf
>untuk semua kesalahan yang pernah kulakukan. Aku sering membuat Mama
>marah …. "  Aku terus berupaya membangunkan Mama.
>
>Beberapa jam berlalu. Aku terus berceloteh tanpa henti. Tiba-tiba
>sepasang tangan menyentuh bahuku.
>
>"Dia sudah meninggal tadi pagi… "  bisik Tante Lin.Bisikan itu sangat
>lembut, tapi efeknya sangat luar biasa. Sesaat aku termangu. Rasanya,
>sekujur tubuhku kosong. Hampa dan sunyi.
>
>Baru kusadari, kepergian Mama membawa pergi sebelah hatiku. Belum
sempat
>kami merekatkan kepingan-kepingan yang terko-yak, Tuhan memanggilnya.
>Aku menguatkan hati, mencoba tidak menangis. Tapi, butiran air mata
>jatuh juga di pangkuanku.
>
>"Dia pergi sambil membawa penyesalan, "  ujar TanteLin, serak.
>"Penyesalan karena kau tidak pernah tahu bahwa ia sudah menyadari
>kesalahannya, karena kau menolak hadiah darinya."
>"Hadiah? Hadiah apa? "  aku memalingkan wajah pada Tante Lin.
>"Aku membawanya waktu datang ke kantormu tiga tahun lalu. Kau sama
>sekali tidak mau menerimanya, bukan? " ujar Tante Lin, sarat dengan
>kecewa. Aku menggeleng lemah.
>"Tiga tahun lalu, tangan kanan mamamu sudah lumpuh. Bicara tidak jelas.
>Ia minta disediakan kertas dan tinta. Dengan memaksakan diri, ia
>menuliskan kata itu dengan tangan kirinya. Ia berpesan, surat ini harus
>sampai di tanganmu. Harus. Surat ini hadiah ulang tahunmu. Ia ingin kau
>tahu, sebenarnya ia menyayangimu. "
>
>Tante Lin lalu berjalan ke arah lemari, mengambil sesuatu, lalu
>mengangsurkan sebuah bungkusan.
>
>Tak sabar aku menyobek sampul dan menemukan lipatan kertas di dalamnya.
>Tangisku tak terbendung. Pertahanan diriku bobol sudah. Alangkah
>egoisnya aku! Alangkah jahatnya! Mama, bisakah kau mendengar suaraku?
>Aku mohon, beri aku kesempatan sekali lagi. Aku mohon! Tuhan, berikan
>keajaiban, sekali ini saja!
>
>Sambil terus meraung memanggil nama Mama, kuciumi kertas dalam
genggaman
>tanganku. Tulisan yang tertera di kertas itu tampak dibuat dengan susah
>payah. Bentuknya acak-acakan. Sulit terbaca. Kertas putih buram itu
>hanya bertuliskan satu kata: M A A F
>
>Tamat

A Story from Rose
AkuPercaya dot com
http://www.akupercaya.com/forum

Kisah Kasih

September 18th, 2007 by oelkrew

Sebuah Renungan

Sebuah senja yang sempurna, sepotong donat, dan lagu cinta yang lembut.
Adakah yang lebih indah dari itu, bagi sepasang manusia yang memadu
kasih?
Raka dan Dara duduk di punggung senja itu, berpotong percakapan lewat,
beratus tawa timpas, lalu Dara pun memulai meminta kepastian. ya,tentang
cinta.
Dara : Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?
Raka : Kamu dong?
Dara : Menurut kamu, aku ini siapa?
Raka : (Berpikir sejenak, lalu menatap Dara dengan pasti) Kamu tulang
rusukku! Ada tertulis, Tuhan melihat bahwa Adam kesepian. Saat Adam
tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa.
Semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan
wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hati."

Setelah menikah, Dara dan Raka mengalami masa yang indah dan manis untuk
sesaat. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan
masing-masing dan kepenatan hidup yang kain mendera. Hidup mereka
menjadi membosankan.
Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan
cinta satu sama lain. Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai
menjadi semakin panas. Pada suatu hari, pada akhir sebuah pertengkaran,
Dara lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak,
"Kamu nggak cinta lagi sama aku!" Raka sangat membenci ketidakdewasaan
Dara dan secara spontan balik berteriak, "Aku menyesal kita menikah!
Kamu ternyata bukan tulang rusukku!"
Tiba-tiba Dara menjadi terdiam , berdiri terpaku untuk beberapa saat.
Matanya basah. Ia menatap Raka, seakan tak percaya pada apa yang telah
dia dengar.
Raka menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan. Tetapi seperti air yang
telah tertumpah, ucapan itu tidak mungkin untuk diambil kembali.
Dengan berlinang air mata, Dara kembali ke rumah dan mengambil
barang-barangnya, bertekad untuk berpisah. "Kalau aku bukan tulang
rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan
sejati masing-masing. "
Lima tahun berlalu.
Raka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu akan kehidupan
Dara. Dara pernah ke luar negeri, menikah dengan orang asing, bercerai,
dan
kini kembali ke kota semula. Dan Raka yang tahu semua informasi tentang
Dara, merasa kecewa, karena dia tak pernah diberi kesempatan untuk
kembali, Dara tak menunggunya. Dan di tengah malam yang sunyi,
saat Raka meminum kopinya, ia merasakan ada yang sakit di dadanya.
Tapi dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan Dara.
Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di airport, di tempat
ketika banyak terjadi pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan hanya
oleh sebuah dinding pembatas, mata mereka tak saling mau lepas.
Raka : Apa kabar?
Dara : Baik… ngg.., apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang?
Raka : Belum.
Dara : Aku terbang ke New York dengan penerbangan berikut.
Raka : Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku kalau kamu sempat.
Kamu tahu nomor telepon kita, belum ada yang berubah. Tidak akan ada
yang berubah. Dara tersenyum manis, lalu berlalu…." Good bye…."
Seminggu kemudian, Raka mendengar bahwa Dara mengalami kecelakaan, mati.
Malam itu, sekali lagi, Raka mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit
di dadanya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah karena Dara,
tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya dia patahkan.

"Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita
cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal"

Pesan Moral dari cerita ini :

Kurangi minum kopi, entar dadanya sakit …………

Eksistensi Tuhan

July 13th, 2007 by oelkrew

cerita ini gw dapet dari forum tercinta dan gw dapeti berguna dan pengen di share.. smoga menolong

beda sih dengan cerita professor tak berotak.
*mhs = mahasiswa

prof: Apakah kalian percaya kalau Tuhan pencipta segalanya?
mhs-mhs: iya!!!

prof: benar? segalanya?
mhs-mhs: iya!!!

prof: artinya kejahatan jg Tuhan yg ciptakan dong. huahuahua!
mhs-mhs: ……..

mhs: prof, kalau ‘dingin’ itu ada ga si?
prof: wakakaka! ya iya lah!

mhs: tp menurut penelitian fisika katanya ‘dingin’ adalah keadaan
dimana tidak ada kalor. jika ada kalor, maka ada panas. jika tidak ada
kalor, maka tidak ada panas. ilmuwan pun meneliti kalor, bukan meneliti
dingin. jadi, keadaan dimana tidak ada panas, itulah yg dinamakan
‘dingin’.
prof: hm… iya ya. betul juga.

mhs: trus, kalau gelap ada ga prof?
prof: …. ada koq.

mhs: tp menurut penelitian fisika, katanya ‘gelap’ adalah keadaan
dimana tidak ada cahaya. jika ada cahaya, maka ada terang. jika tidak
ada cahaya, maka tidak ada terang. ilmuwan pun meneliti cahaya, bukan
meneliti gelap. jadi, keadaan dimana tidak ada cahaya, itulah yg
dinamakan ‘gelap’.
prof: ….. (sialan nih anak)

mhs: jadi, prof, kejahatan itu ada atau tidak?
prof: tentu saja ada! buktinya kita sudah liat di berita-berita kriminal. kamu liat sendiri kan? kejahatan itu ada!

mhs: sama aja sih sebenarnya. kejahatan, sama seperti dingin dan gelap,
adalah keadaan dimana tidak ada Tuhan. jika ada Tuhan maka ada
kebaikan. Jika tidak ada Tuhan, maka tidak ada kebaikan. Jadi,
kejahatan tercipta jika tidak ada Tuhan di hatinya.

Tukang Cukur Vs Jemaat

June 1st, 2007 by oelkrew

Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya.

Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.

Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.

Si tukang cukur bilang,"Saya tidak percaya Tuhan itu ada".

"Kenapa kamu berkata begitu ???" timpal si konsumen.

"Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan… untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada.

Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada,

Adakah yang sakit??, anak terlantar??

Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan.

Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi."

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.

Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.

Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada
orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar
(mlungker-mlungker-istilah jawa-nya), kotor dan brewok yang tidak
dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.

Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata,

Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR."

Si tukang cukur tidak terima," Kamu kok bisa bilang begitu ??".

"Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!"

"Tidak!" elak si konsumen.

"Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang
dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di
luar sana", si konsumen menambahkan.

"Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!", sanggah si tukang cukur.

" Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya", jawab si tukang cukur membela diri.

"Cocok!" kata si konsumen menyetujui.

"Itulah point utama-nya!.

Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA !

Tapi apa yang terjadi… orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA.

Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini."
Si tukang cukur terbengong !!!

Aku berdoa supaya..

May 28th, 2007 by oelkrew

"Aku berdoa supaya aku tidak menangis
waktu aku kalah…."
Suatu ketika, ada seorang anak yang
sedang mengikuti sebuah lomba mobil
balap mainan. Suasana sungguh meriah
siang itu, sebab ini adalah babak
final. Hanya tersisa 4 orang sekarang
dan mereka memamerkan setiap
mobil mainan yang dimiliki. Semuanya
buatan sendiri,sebab memang begitulah
peraturannya.
Ada seorang anak bernama Mark.
Mobilnya tak istimewa, namun ia
termasuk dalam 4 anak yang masuk
final. Dibanding
semua lawannya, mobil Mark-lah yang
paling tak sempurna. Beberapa anak
menyangsikan kekuatan mobil itu untuk
berpacu melawan mobil lainnya. Yah,
memang, mobil itu tak begitu menarik.
Dengan kayu yang sederhana dan sedikit
lampu kedip di atasnya, tentu tak
sebanding dengan hiasan mewah yang
dimiliki mobil mainan lainnya. Namun,
Mark
bangga dengan itu semua, sebab, mobil
itu buatan tangannya
sendiri.
Tibalah saat yang dinantikan. Final
kejuaraan mobil balap mainan.
Setiap anak mulai bersiap di garis
start, untuk mendorong mobil mereka
kencang-kencang. Di setiap jalur
lintasan, telah
siap 4 mobil, dengan 4 pembalap"
kecilnya. Lintasan itu berbentuk
lingkaran dengan 4 jalur terpisah di
antaranya.
Namun, sesaat kemudian, Mark meminta
waktu sebentar sebelum lomba dimulai.
Ia tampak berkomat-kamit seperti
sedang berdoa.
Matanya terpejam, dengan tangan
bertangkup memanjatkan doa. Lalu,
semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku
siap!".
Dor!!! Tanda telah dimulai.
Dengan satu hentakan kuat, mereka
mulai mendorong mobilnya kuat-kuat.
Semua mobil tu pun meluncur dengan
cepat.
Setiap orang bersorak-sorai,
bersemangat, menjagokan mobilnya
masing-masing.
"Ayo..ayo… cepat..cepat,
maju..maju", begitu teriak mereka.
Ahha…sang pemenang harus ditentukan,
tali lintasan finish pun telah
terlambai.
Dan…
Mark-lah pemenangnya. Ya, semuanya
senang, begitu juga Mark. Ia berucap,
dan berkomat-kamit lagi dalam hati.
"Terima kasih."
Saat pembagian piala tiba. Mark maju
ke depan dengan bangga. Sebelum piala
itu diserahkan, ketua panitia bertanya.
"Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa
kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?"
Mark terdiam. "Bukan, Pak, bukan itu
yang aku panjatkan" kata Mark.
Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak
adil untuk meminta pada Tuhan untuk
menolongku mengalahkan orang lain, aku,
hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku
tak menangis, jika aku kalah."
Semua hadirin terdiam mendengar itu.
Setelah beberapa saat, terdengarlah
gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi
ruangan.
Teman, anak-anak, tampaknya lebih
punya kebijaksanaan dibanding kita
semua.
Mark, tidaklah bermohon pada Tuhan
untuk menang dalam setiap ujian.
Mark, tak memohon Tuhan untuk
meluluskan dan mengatur setiap hasil
yang ingin diraihnya. Anak itu juga
tak meminta
Tuhan mengabulkan semua harapannya.
Ia tak berdoa untuk menang, dan
menyakiti yang lainnya.
Namun, Mark, bermohon pada Tuhan, agar
diberikan kekuatan saat menghadapi itu
semua. Ia berdoa, agar diberikan
kemuliaan, dan mau menyadari
kekurangan dengan rasa bangga.
Mungkin, telah banyak waktu yang kita
lakukan untuk
berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan
setiap permintaan kita. Terlalu sering
juga kita meminta Tuhan untuk
menjadikan kita nomor satu, menjadi
yang terbaik, menjadi pemenang dalam
setiap ujian. Terlalu sering kita
berdoa
pada Tuhan, untuk menghalau setiap
halangan dan cobaan yang ada di depan
mata.
Padahal, bukankah yang kita butuh
adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya,
dan panduan-Nya? Kita, sering terlalu
lemah
untuk percaya bahwa kita kuat.
Kita sering lupa, dan kita sering
merasa cengeng dengan kehidupan ini.
Tak adakah semangat perjuangan yang mau
kita lalui? Saya yakin, Tuhan
memberikan kita ujian yang berat,
bukan untuk membuat kita lemah,
cengeng dan mudah
menyerah.
Jadi, teman, berdoalah agar kita
selalu tegar dalam setiap ujian.
Berdoalah agar kita selalu dalam
lindungan-Nya saat menghadapi itu
ujian tersebut.
Amin….

Bajakan CD Rohani

May 25th, 2007 by oelkrew

Sosok yang dulu lebih banyak dibelakang layar pentas musik gospel
Indonesia itu kini sudah di daulat juga sebagai penyanyi. Jonathan
Prawira, membagikan cerita lucu sekaligus bermakna tentang kemana roh
pembajak lagu rohani pergi saat ia mati?

“Suatu hari seorang
pembajak CD rohani mati. Oleh malaikat pencabut nyawa ia di bawa ke
neraka. Cocok! Merugikan banyak orang, pikirnya. Ternyata oleh malaikat
penjaga neraka ditolak! Alasannya? Karena mendengar lagu rohani, banyak
orang bertobat. Roh si pembajak lalu dibawa ke surga.”

“Sampai
pintu surga, malaikat penjaga pun menolak. ‘Maaf, orang model begini
tidak layak masuk surga. Produk rohani yang kamu bajak itu tidak bayar
penyanyi, pemusik dan pencipta lagu seperti Jonathan Prawira. Jadi
sorry, nggak bisa masuk,’” tutur pencipta lagu Sejauh Timur dari Barat,
Hati Sbagai Hamba, Mujizat itu Nyata dan pemilik album “Dreams Come
True”

Kelanjutannya bagaimana? Tidak mungkin roh orang mati
nggak punya tempat, bukan? Jonathan melanjutkan ceritanya, “Oleh
malaikat pencabut nyawa roh pembajak itu ditanya ‘Kalau kamu hidup lagi
di dunia, mau kerja apa?’ tanya malaikat. Si pembajak bingung. Selama
bertahun-tahun kerjanya membajak lagu rohani. Laris. Kerjanya enak,
untungnya besar. ‘Ah….saya masih mau jadi pembajak. Tapi gimana caranya
kalau mati nggak bingung kayak gini?’ ‘Oh, bisa,’ jawab malaikat dengan
tenang. Kamu jadi kerbau saja, jadi bisa bajak sawah sepuasnya tanpa
dosa.’” Itulah guyonan Jonathan seputar CD bajakan yang sudah mengakar
dari segala lapisan masyarakat.

Jonathan semakin heran saat tahu ada gereja yang membiarkan penjual CD bajakan berdagang di depan gereja.

“Masa
menyembah Tuhan pakai CD bajakan?” ungkap penulis pyang produktif
menciptakan hits yang tahun ini genap 10 tahun berkiprah dalam pujian
dan penyembahan.

Setelah Anda menyimak cerita dari Jonatahan ini. Jika Anda tertegur, masih mau beli CD bajakan?

Sumber: joel/reportase jawaban.com

ada2 aja hahaha

Wihh…..

April 11th, 2007 by oelkrew

Wahh kaget gw, pas denger2 lagu2 Westlife jadi semua memori dari masa lampao muncul kembali. memori temen2 jg otomatis jg nongol smua, tapi smua itu membawa kebaikan buat gw pribadi jg.. hmm anehnya itu kata yg bener2 berperan dalam hari ini adalah "Lead me not into temptation" tadi baca2 di Matius ( wah tumben2an? haha iya nih ) janganlah membawa kami ke dalam pencobaan tapi jauhkanlah kami dari yg jahat. itu bener2 hebat jg kalo bisa gitu, gw gak abis pikir aja. smua itu ada koneksi dari memori2 dari kecil gw sampe skrg ini soalnya godaan banyak banget dari dulu.. dan puji Tuhan gw bisa hidup sampe detik ini walau sudah beratusan kali jatuh ke dalam pencobaan. tapi gpp dahh smua ada hikmahnya..

gw lagi asik denger2 Westlife nih hahahha

A New Chapter

March 20th, 2007 by oelkrew

Wah, jajal ah bikin blog,

I am opening a new chapter of my story.